Sepuluh Sepeda Favorit (Hingga Saat Ini)

Saya jatuh cinta dengan bersepeda (road bike) pada akhir 2011. Sejak saat itu, satu demi satu sepeda terkoleksi. Dan seperti kebanyakan kolektor benda apa pun, beberapa mendapat tempat khusus di dalam hati.

Kebanyakan sepeda itu sekarang sudah “retired.” Tidak lagi dipakai, tapi dalam kondisi selalu terawat. Beberapa bukanlah sepeda yang sulit didapat. Kebetulan saja mereka memberi saya pengalaman spesial.

Belakangan, begitu banyak orang menanyakan apa sepeda favorit saya. Menjawabnya sangat sulit. Setelah menimang-nimang, ada sepuluh yang bisa saya sampaikan. Berikut sepuluh sepeda favorit saya sejauh ini:

1. Specialized S-Works Tarmac SL3 HTC-Highroad

Inilah “cinta” pertama saya. Sepeda road saya yang pertama adalah sebuah Tarmac Expert. Kemudian saya membeli lagi sebuah SL3, yaitu edisi S-Works SL3 tim HTC-Highroad. Edisi tim super yang waktu itu diperkuat Mark Cavendish dkk.

Waktu itu (dan agak sampai sekarang) saya paling suka merakit sepeda sesuai spek tim resmi. Jadi, segala komponennya dibuat semirip mungkin dengan versi tim. Handlebar dan stem-nya Pro Vibe, grupset Shimano Dura-Ace 7900 (10-speed), sadel Fizik Arione putih, dan wheelset Dura-Ace C35.

Kenapa cinta pertama? Karena sepeda ini adalah referensi pertama saya tentang karakter sepeda yang saya suka. Cepat, kaku, ringan, tapi nyaman. Bagi saya, tidak semua Tarmac generasi penerusnya seasyik versi SL3 ini.

2. Specialized S-Works McLaren Venge

Kapan kita tahu boleh mulai mengoleksi sepeda mahal? Ketika istri membelikan Anda sebuah sepeda mahal! Pada Juli 2012, saya masih bekerja di redaksi media, dengan deadline sampai larut malam. Waktu hari ultah itu, kebetulan saya pulang jam 10-an malam, lebih cepat dari biasanya. Saya heran, kok keluarga saya masih lengkap di ruang tamu. Ya saya duduk saja nonton TV sambil ngemil.

Setelah beberapa lama, saya pun ke toilet. Ketika hendak buang air kecil, saya melihat ada sebuah sepeda (tanpa wheel) dibungkus toilet paper disandarkan di dindingnya. Ketika saya buka, ternyata sebuah McLaren Venge! Istri saya (dan kakaknya) rupanya berupaya keras untuk mendapatkan sepeda edisi limited itu. Tahu saya sedang suka sepeda dan saya penggemar berat F1.

Sepeda itu masih dalam original spek sampai hari ini. Dengan kokpit Zipp aero lengkap, wheelset Zipp 404 edisi khusus 2012 itu, dan grupset Dura-Ace Di2 10-speed yang waktu itu paling eksklusif.
Gara-gara sepeda ini, saya tidak lagi “takut” beli sepeda. Dan saya terus membantu industri ini dengan terus membeli sepeda. Wkwkwkwk…

3. Pinarello Dogma 65.1 Think 2 Team Sky 50x

Bukan kolektor rasanya kalau belum pernah punya Dogma. Kebetulan, saya kagum dengan Team Sky, dan suka mengoleksi edisi tim tersebut. Juga pernah ke Belgia bersama teman-teman dan mengunjungi service course-nya.

Kebetulan, teman-teman dan saya dapat akses ke barang-barang milik tim tersebut. Boleh membeli sepeda-sepeda atau parts bekas yang sudah tidak mereka pakai. Jadi, hari ini, ada banyak sepeda bekas Team Sky asli berkeliaran di Surabaya dan sekitar.

Dari sekian sepeda itu, ada satu yang mungkin memang jodoh saya. Sebuah Dogma 65.1 Think 2. Apa spesialnya? Sepeda ini ukurannya khusus, tidak untuk dijual umum.

Dibuat khusus hanya untuk Team Sky. Yaitu ukuran 50x. Maksudnya, top tube-nya ukuran 50, seat tube-nya ukuran 46. Ceper dan panjang!

Rupanya, ukuran frame ini dibuat khusus untuk Mark Cavendish, yang sempat bergabung di tim itu pada 2012. Tapi dia lantas pindah tim.

Kebetulan, tinggi saya sama persis dengan Cavendish. Panjang inseam kaki saya juga sama. Sepeda ini saya setel persis milik Team Sky.

Handlebar dan stem-nya Pro Vibe edisi Cavendish (stem-nya 135 mm dan besar kokoh). Grupset Dura-Ace Di2. Wheelset-nya bekas Team Sky. Waktu itu memakai rim buatan HED (tanpa logo) dipadu dengan hub Shimano yang sudah dimodif.

4. Trek Domane Spactacus (Fabian Cancellara)

Selama mengikuti arena balap, Fabian Cancellara menjadi pembalap favorit saya. Jadi, setiap tahun saya mencoba membeli sepeda edisi pembalap Swiss itu, lalu mendandaninya semirip mungkin dengan miliknya.

Pada 2013, Trek Domane dengan ISOspeed decoupler (suspensi) dirilis. Saya memesan edisi khusus “Spartacus.” Hitam dengan corak silver khas sang pembalap. Saya membuatnya semirip mungkin dengan sepeda yang dipakai

Cancellara di arena Paris-Roubaix.
Grupset pakai Shimano Dura-Ace mechanical (Cancellara tidak suka Di2). Semua komponen buatan Bontrager, anak perusahaan Trek. Termasuk Wheelset Aeolus 5 tubular edisi tim dengan ruji/spoke warna putih.

Sentuhan khusus: Memakai outer kabel Nokon warna silver, serta memakai pulley rear derailleur yang terbuat dari karbon buatan Berner Jerman. Bannya pun spesial: FMB Paris-Roubaix.

5. Trek Emonda SLR

Melanjutkan koleksi edisi tim balap WorldTour, saya memesan sebuah Trek Emonda SLR. Ini edisi kedua, untuk menggantikan edisi pertama yang saya jual (yang bukan edisi tim).

Seperti biasa, komponennya mirip yang dipakai tim Trek-Segafredo. Secara sepeda, sebenarnya tidaklah terlalu kolektor.

Tapi ini agak unik karena ketika saya pesan, legenda balap Jens Voigt sendiri yang mengantarkan dan menyerahkannya di kantor saya. Wah, tidak mungkin dijual lagi ini!

Oh ya, kalau ditanya merek favorit, sebenarnya “Trek” adalah jawabannya. Alasannya sudah sejak lama, sejak sebelum suka bersepeda. Dulu saya termasuk pengagum Lance Armstrong! (azrul ananda/bersambung)

 

 

Be the first to comment on "Sepuluh Sepeda Favorit (Hingga Saat Ini)"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: