Belum Beres, PKL Sudah Menjamur

Belum Beres, PKL Sudah Menjamur
MONITOR. Beberapa pedagang kaki lima di jalur HZ Mustofa. Satpol PP Kota Tasikmalaya memantau aktivitas HZ Mustofa melalui ATCS Dishub dan Patroli berkala menekan risiko gangguan yang disebabkan gerobak atau lapak pedagang, Kaamis (15/9/2022). Foto: Firgiawan/Radar Tasikmalaya
0 Komentar

CIHIDEUNG, RADSIK – Pedestrian HZ Mustofa membuktikan magnetnya meski rekonstruksi belum tuntas 100 persen. Ditandai dengan mulai menjamurnya pedagang kaki lima (PKL) gerobak yang kerap mangkal saat sore hari.

Merespons banyaknya laporan dan pengaduan, Satpol PP Kota Tasikmalaya melakukan sterilisasi berkala melalui pantauan tim patroli dan juga pemanfaatan Area Traffic Control System (ATCS) di Simpang Jalan Cihideung. Sebab, meski setiap beberapa jam petugas mengontrol, PKL kerap kucing-kucingan melapak dan menimbulkan kemacetan.

[membersonly display=”Baca selengkapnya, khusus pelanggan Epaper silakan klik” linkto=”https://radartasik.id/in” linktext=”Login”]

Baca Juga:88 Kasus HIV/AIDS Didominasi Laki Seks LakiMassa Menolak Kenaikan Harga BBM Subsidi

“Tadi malam itu ada beberapa pedagang gerobak melapak di pinggir pedestrian di jalur dekat pembangunan. Kami koordinasi dengan Dishub berupaya melakukan pemantauan supaya CCTV di Simpang Cihideung diarahkan ke Jalan HZ Mustofa. Disamping kami siagakan tim patroli berkala,” tutur Kepala Bidang Ketertiban Umum, Ketenteraman Masyarakat dan Perlindungan Masyarakat Satpol PP Kota Tasikmalaya H Budhi Hermawan MSi kepada Radar, Kamis (15/9/2022).

Menurutnya, meski petugas sejak pagi, siang dan menjelang petang menyisir area tersebut, nyatanya masih ditemukan pedagang membandel.

Pihaknya mengharapkan partisipasi warga dan para pemilik toko guna menyampaikan informasi tatkala terjadi kendala seperti lapak yang membuat macet. “Memang kucing-kucingan, petugas lewat gerobak berjejeran dan menimbulkan macet. Namun, alhamdulillah sudah direspons Dishub supaya kami saling koordinasi dalam merespons gangguan semacam itu,” paparnya.

Dia menjelaskan, sterilisasi tersebut bukan berarti pemkot melarang aktivitas usaha kecil di area pedestrian. Melainkan menciptakan suasana, dimana pelaksana proyek rekonstruksi bisa mengejar progres kegiatan sesuai waktu yang ditetapkan.

Disamping itu, pelaksanaan rekonstruksi ini belum sampai tahap serah-terima hasil pekerjaan. “Jangan sampai ketika dilimpahkan ke pemkot pekerjaan yang dianggap selesai, malah ada cacat atau kerusakan yang sebenarnya bukan dilakukan pelaksana proyek. Khawatir ada yang iseng atau tidak sengaja merusak hasil pembangunan sementara itu,” beber Budhi.

Mantan Kasi PIP Diskominfo ini mengakui tidak hanya aktivitas proyek yang dijaga, melainkan warga dan para pegiat di jalur sibuk itu. Dipastikan keselamatan dan kenyamanannya. Khawatir, ada bahan material yang tercecer atau berserakan kemudian berimbas terhadap warga yang sedang aktivitas di lokasi rekonstruksi.

0 Komentar