PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Ancaman gagal panen tak hanya datang dari cuaca dan persoalan irigasi. Kali ini, petani di Dusun Cikarang, Desa Karangmulya, Kecamatan Padaherang, harus menghadapi serbuan gerombolan monyet liar yang menggasak tanaman buah di perkebunan mereka.
Dalam beberapa hari terakhir, gerombolan primata tersebut dilaporkan kerap turun ke ladang warga untuk mencari makan.
Sejumlah tanaman buah yang selama ini dirawat petani menjadi sasaran. Bahkan, buah pada pohon yang baru mulai berproduksi pun tak luput dari jarahan.
Baca Juga:IPSI Cup XI Kota Tasikmalaya Diserbu 1.314 Atlet, Pembinaan Pesilat Muda Diuji di ArenaPenjualan Online Tembus 60 Persen, JG Motor Targetkan Jadi Nomor Satu se-Jawa Barat
Tanaman pisang, sawo, kelapa, dan sejumlah komoditas buah lainnya dilaporkan habis dimakan kawanan monyet.
Kondisi itu membuat warga mengeluh lantaran hasil kebun yang diharapkan bisa dipanen justru lebih dulu dinikmati satwa liar.
Serangan biasanya terjadi pada sore hari. Saat para petani sudah meninggalkan kebun dan kembali ke rumah, kawanan monyet leluasa masuk ke area perkebunan untuk mencari makanan.
Kepala Resort KSDA Pangandaran Kusnadi menduga, kemunculan monyet liar di perkebunan warga berkaitan dengan kondisi kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan makanan di habitat aslinya.
Selain kekeringan, kebakaran lahan juga diduga memperburuk kondisi lingkungan sehingga satwa liar kesulitan mendapatkan sumber makanan.
Akibatnya, kawasan perkebunan dan ladang warga menjadi salah satu lokasi yang didatangi kawanan monyet.
“Kan ada lahan yang kebakaran, susah air. Kebetulan di sekitar lokasi kebun itu, di bawahnya terdapat mata air,” ungkap Kusnadi, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga:RSUD dr. Soekardjo Hadirkan ICU Baru dengan 16 Tempat Tidur, Tebar Semangat "Setulus Hati Kami Melayani"LPPOM Dorong Ekosistem Halal Industri Bakso di Tasikmalaya
Menghadapi gangguan tersebut, Kusnadi menyarankan warga melakukan langkah antisipasi sederhana untuk menghalau monyet ketika mulai memasuki perkebunan.
Petani dapat memanfaatkan kentongan atau alat lain yang menghasilkan suara keras untuk menakut-nakuti satwa tersebut.
Alat tradisional seperti katapel berbahan karet ban juga disebut bisa digunakan sebagai upaya pengusiran.
“Kalau ada kera datang ke ladang, warga bisa bersiap menggunakan alat tradisional seperti katapel dari karet ban. Bisa juga memakai bunyi-bunyian atau kentongan agar kera-kera itu ketakutan,” jelasnya.
Meski demikian, warga perlu tetap berhati-hati dan menghindari tindakan yang dapat melukai satwa liar.
Sebab, gangguan di perkebunan tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kondisi habitat akibat kemarau dan kebakaran lahan.
