Adapun Pilar 3, yakni pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, baru mencapai 39 persen dari target 75 persen. Sementara Pilar 5, pengelolaan limbah cair rumah tangga, berada di angka 7,5 persen dari target 30 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa capaian sanitasi tidak berhenti pada keberhasilan satu pilar.
Setelah upaya menghentikan praktik BABS mencapai target, pekerjaan berikutnya adalah memastikan perilaku hidup bersih dan sehat benar-benar menjadi kebiasaan di lingkungan rumah tangga.
Baca Juga:STMIK DCI Jadi Pusat Inkubasi Robotika Jawa Barat, Kota Santri Bidik Ekosistem TeknologiTasikmalaya International Job Fair Diserbu 4.116 Pendaftar! Lowongan Tembus 7.222 Posisi, ini Jadwalnya
Pelatihan ini dilaksanakan dalam lima putaran. Kegiatan di Cibunigeulis menjadi putaran pertama, dengan harapan peserta dapat meneruskan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada masyarakat di wilayah masing-masing.
Materi pelatihan mencakup pemilahan sampah sejak dari sumbernya, pengurangan timbulan sampah, serta penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Sampah organik juga didorong untuk diolah secara mandiri melalui metode sederhana, seperti pengomposan dan pemanfaatan Lubang Resapan Biopori (LRB).
Langkah tersebut sejalan dengan upaya mengurangi sampah yang berakhir di tempat penampungan sementara (TPS) maupun tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sisa sayuran, buah, dan daun kering, misalnya, dapat dimanfaatkan menjadi kompos untuk menyuburkan tanaman pekarangan.
Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak semata-mata bergantung pada pengangkutan petugas. Perubahan juga perlu dimulai dari rumah, sejak sampah dihasilkan, dipilah, hingga diolah sesuai jenisnya.
Penyelenggaraan STBM sendiri bertujuan mengubah perilaku higienis dan saniter masyarakat untuk menekan risiko penyakit berbasis lingkungan.
Baca Juga:Denda PBB-P2 di Kota Tasikmalaya Dihapus Total, Tunggakan Lama Bisa Dipangkas 100 PersenGP Ansor Kritik Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya, Jangan Cuma Bangga Jadi Kota Santri
Lingkungan yang tidak terkelola dengan baik dapat menjadi media penularan berbagai penyakit dan berdampak pada kualitas kesehatan masyarakat.
Melalui pelatihan tersebut, FKS berharap masyarakat tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara konsisten.
Sebab, kota sehat bukan sekadar predikat yang dikejar, melainkan kondisi yang harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangannya kini adalah memastikan pengetahuan yang diberikan tidak berhenti di ruang pelatihan.
Sebab, sampah tidak mengenal seremoni; ia terus diproduksi setiap hari dan menuntut penanganan nyata dari setiap rumah tangga.
Dalam pelatihan ini menghadirkan pemateri Dewi Nusarini, Penyuluh Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan hidup (DLH) Kota Tasikmalaya dan Lina Herlina, Sanitarian Penyelia Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tasikmalaya. (rezza rizaldi)
