Ketua RW setempat, Cecep Widianto, mengatakan, dirinya baru mengetahui persoalan tersebut sekitar dua hari sebelum memberikan keterangan, setelah orang tua Raya melaporkan bahwa anaknya belum pulang.
Cecep kemudian berupaya menggali informasi dengan menanyakan keberadaan Raya kepada orang-orang yang dikenal dekat dengannya.
Namun, keterbatasan informasi mengenai lingkungan pertemanan Raya membuat pencarian di tingkat lingkungan belum menghasilkan kepastian.
Baca Juga:Gen Z Makin Sulit Dinasehati? Orang Tua Punya Peran PentingBeban Zaman Generasi Muda: Antara Potensi, Etika, dan Daya Juang di Tengah Arus Teknologi
“Kemarin sempat nanya-nanya dulu rekan-rekannya yang dekat. Karena saya kurang tahu banyak rekannya di mana, akhirnya saya memanggil orang tuanya ke rumah untuk ditanya-tanya,” kata Cecep.
Setelah memperoleh informasi dari keluarga, Cecep berkomunikasi dengan KPAID Kabupaten Tasikmalaya guna mencari langkah yang dapat ditempuh untuk membantu menemukan Raya.
Dari koordinasi tersebut, keluarga disarankan menyampaikan pengaduan kepada KPAID agar persoalan itu mendapatkan pendampingan dan dapat ditindaklanjuti melalui jalur yang sesuai.
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, mengatakan, laporan mengenai anak atau remaja yang meninggalkan rumah tanpa kembali bukan kali pertama diterima pihaknya.
Dalam kasus Raya, keluarga datang meminta bantuan karena hingga sekitar dua pekan setelah kepergiannya, keberadaan remaja berusia 16 tahun tersebut belum diketahui secara pasti.
“Ini adalah yang kesekian kalinya kita mendapati pelaporan bahwa ada anak remaja yang meninggalkan rumah yang sampai hari ini masih belum pulang,” ujar Ato.
Ia menjelaskan, pihaknya menerima pengaduan dari keluarga Raya untuk meminta bantuan pencarian dan pendampingan agar anak tersebut dapat segera kembali berkumpul bersama keluarganya.
Baca Juga:Hari Santri Jadi Momentum SD Islam Al Misbah Perkuat Karakter SiswaGMNU Kota Tasikmalaya Kritik SiLPA APBD Kota Tasikmalaya 2025 yang Jadi Temuan BPK
Menurut Ato, berdasarkan sejumlah kasus yang pernah didalami, terdapat beberapa faktor yang dapat melatarbelakangi anak meninggalkan rumah.
Salah satunya adalah ketidaknyamanan di lingkungan keluarga. Meski demikian, faktor tersebut tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai penyebab dalam kasus Raya. “Kita masih mencoba mendalami,” katanya.
Ato juga menyampaikan bahwa pihaknya tengah mencermati kemungkinan adanya keterkaitan antara kasus anak yang tidak pulang dengan dugaan modus bujuk rayu terhadap anak dan remaja yang belakangan menjadi perhatian di sejumlah daerah.
Ia menyebut adanya laporan yang diterima pihaknya, termasuk pengaduan dari luar Kabupaten Tasikmalaya, mengenai dugaan anak-anak dibujuk untuk menikah dengan iming-iming mas kawin bernilai besar, kemudian dibawa ke Tiongkok setelah menikah.
