Mahasiswa meminta dampak pengurangan anggaran tersebut diperhitungkan secara serius. Sebab, ketika ruang fiskal daerah menyempit, pemerintah dituntut menentukan prioritas belanja tanpa mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.
Bagi Pangandaran, persoalan ini menjadi penting karena kebutuhan pembangunan tidak berhenti pada infrastruktur dan pengembangan pariwisata. Peningkatan kualitas sumber daya manusia juga membutuhkan dukungan anggaran yang memadai dan berkelanjutan.
Di luar persoalan anggaran, mahasiswa menyoroti capaian pendidikan Pangandaran yang dinilai masih rendah dan cenderung stagnan pada sejumlah indikator.
Baca Juga:GP Ansor Kritik Arah Pembangunan Kota Tasikmalaya, Jangan Cuma Bangga Jadi Kota SantriOhan Hafidz Gelombang II Diluncurkan, Kota Tasikmalaya Lanjutkan Pembinaan Generasi Qur’ani
Hisyam mengatakan, pemerintah daerah perlu memperkuat pembangunan sumber daya manusia sejak jenjang pendidikan dasar, bukan hanya berorientasi pada peningkatan akses ke perguruan tinggi.
“Kalau dilihat dari masa harapan sekolah ataupun indeks pendidikan di Kabupaten Pangandaran ini masih rendah, bahkan stagnan di jenjang SMP saja,” ungkapnya.
Menurut dia, pembenahan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh agar para pelajar memiliki kemampuan dasar yang memadai dan siap melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Sorotan lebih tajam disampaikan Wakil Ketua BEM Kema PSDKU Unpad, Yuzhar Daffaa Rabbani. Ia mengungkapkan adanya temuan siswa SMP yang masih buta huruf berdasarkan riset akademis Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad pada 2022.
“Salah satu dosen Fakultas Ilmu Komunikasi pernah melakukan riset di tahun 2022 yang menunjukkan bahwa ada siswa-siswa SMP di Pangandaran yang masih buta huruf dan itu jumlahnya banyak,” katanya.
Temuan tersebut, menurut Yuzhar, menjadi pengingat bahwa persoalan pendidikan tidak cukup diselesaikan dengan mendorong siswa masuk SMA atau perguruan tinggi. Fondasi kemampuan membaca dan menulis sejak pendidikan anak usia dini, sekolah dasar, hingga SMP juga harus mendapat perhatian serius.
“Kami mendorong bahwasanya pendidikan bukan hanya fokus dari SMA ke kuliah saja, tetapi dasarnya dulu dari TK, SD, hingga SMP yang harus benar-benar dibenahi,” tegasnya.
Baca Juga:Baru Dilantik, Gekrafs Kota Tasikmalaya Buktikan Kinerja Lewat Pekraf dan Dipuji WamenekrafStok Darah RSUD dr. Soekardjo Terbantu, Ratusan Prajurit Macan Putih Turun Tangan
Aspirasi mahasiswa itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dan DPRD. Di tengah tekanan anggaran dan ambisi mengembangkan sektor unggulan, persoalan mendasar seperti literasi pelajar tidak boleh tersisih dari prioritas pembangunan.
Sebab, pembangunan daerah bukan semata soal seberapa banyak proyek yang berjalan, melainkan juga sejauh mana anak-anak Pangandaran memperoleh pendidikan yang layak dan kemampuan dasar untuk menatap masa depan. (deni nurdiansah)
