Menu seperti karedok dan aneka olahan ikan lokal diharapkan bisa menjadi pintu masuk bagi orang tua untuk mengenalkan kekayaan kuliner Sunda kepada anak-anak sejak dini.
Selain kualitas rasa dan bahan baku, Atie menekankan pentingnya strategi pemasaran dalam menjaga daya saing usaha kuliner lokal.
Menurut dia, kekayaan bahan pangan dan ragam masakan tradisional Sunda perlu ditopang kemasan serta promosi yang menarik agar mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Baca Juga:Stok Darah RSUD dr. Soekardjo Terbantu, Ratusan Prajurit Macan Putih Turun TanganRetribusi Kios Pasar Kota Tasikmalaya Bakal Naik 25 Persen, Pedagang Minta Tunggakan Dihapus
“Kalau kita amati, kita sangat kaya. Tapi mungkin kita kalahnya kadang-kadang di kemasan, di promosi. Nah, itu yang mungkin juga jadi tantangan,” tuturnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian kuliner juga berkaitan dengan keberlanjutan bisnis.
Produk tradisional memiliki potensi untuk terus berkembang, tetapi perlu dikemas dan dipasarkan secara kreatif tanpa kehilangan karakter serta cita rasa aslinya.
Ke depan, Atie berharap Bale Balong tidak hanya menjadi tempat bersantap, tetapi juga ruang edukasi bagi keluarga.
Ia membayangkan adanya area yang ditanami berbagai jenis sayuran, seperti terong, sehingga pengunjung, khususnya anak-anak, bisa mengenal tanaman pangan sekaligus memahami asal bahan makanan yang tersaji di meja.
Dengan konsep tersebut, pengalaman berkunjung diharapkan tidak berhenti pada kegiatan makan bersama. Anak-anak juga dapat belajar mengenali tanaman, lingkungan tumbuhnya, serta hubungan antara bahan pangan lokal dan hidangan tradisional.
Bagi Bale Balong, menjaga kuliner Sunda berarti merawat identitas sekaligus membuka peluang agar warisan pangan daerah tetap memiliki nilai ekonomi.
Baca Juga:Ironis, Warga Belakang Bale Kota Tasikmalaya Kesulitan Air BersihKota Tasikmalaya Gaungkan Santri Melek Teknologi dan Inovasi
Di tengah tren makanan yang silih berganti, kuliner tradisional perlu terus berinovasi dalam pemasaran dan pengalaman konsumen agar tidak kalah bersaing hanya karena kalah populer.
Empat tahun perjalanan Bale Balong menjadi pengingat bahwa menjaga warisan kuliner bukan berarti menolak perubahan.
Justru, tantangannya adalah membuat kekayaan rasa lokal tetap relevan, diminati, dan dikenal generasi berikutnya. (fitriah widayanti)
