TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Minggu pagi, 18 Oktober 2026, saya menghadapi dilema kecil. Mengantar anak gadis latihan berenang atau menghadiri pelantikan dan launching Asosiasi Muda Institute (AMI) Kota Tasikmalaya di Aula Serbaguna DPRD.
Dua-duanya sama-sama penting. Yang satu belajar mengarungi air, yang lain mudah-mudahan belajar mengarungi persoalan kota.
Akhirnya, saya memilih AMI. Entah mengapa, saya selalu antusias kalau berhadapan dengan anak muda. Mungkin karena mereka masih punya sesuatu yang kadang mulai hilang pada orang dewasa: keberanian membayangkan masa depan.
Baca Juga:Orang Tua Harus Sering Ngobrol untuk Melindungi Anak dari Dampak Negatif Teknologi DigitalSampah di Pasar Padayungan Tasikmalaya Membludak Tutupi Jalan
Apalagi, di sana ada sejumlah sahabat. H. Budi Mahmud Saputra, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat sekaligus Ketua DPD PAN Kota Tasikmalaya. Ada Kang Enan Suherlan, anggota DPRD. Ada Kang Budi Hermawan, Kabid Satpol yang cekatan. Ada Arif Abdurrohman dari KNPI. Ada H. Ade Hendar, Plt. Asda I sekaligus Kepala Kesbangpol, serta Kang Deni Haryanto, kawan seperjuangan yang kini menjadi kabid di Kesbangpol.
Namun, ada satu yang mungkin membuat saya sedikit berbeda dari tamu lainnya. Undangan meminta batik. Saya datang memakai jersey Persib.
Kebetulan Persib dijadwalkan menghadapi Persik Kediri di Stadion Si Jalak Harupat. Seusai acara, saya memang berencana langsung meluncur ke stadion.
Jadi, jersey itu punya dua fungsi: menghadiri pelantikan dan mempersiapkan diri menjadi suporter. Efisien sekali.
Tetapi, ada alasan lain. Saya ingin sedikit berbeda. Bukankah anak muda seharusnya berani berbeda? Tentu, berbeda bukan berarti sekadar mengganti batik dengan jersey. Batik tidak membuat seseorang otomatis bijaksana. Jersey Persib juga tidak otomatis membuat pemakainya progresif.
Pakaian hanya membungkus badan. Yang lebih penting adalah isi kepala. Dan saya berharap, AMI punya cukup banyak isi di bagian itu. Mudah-mudahan.
Saya mengikuti acara sampai selesai. Harus diakui, acaranya belum sepenuhnya menggigit. Namun, saya tidak ingin buru-buru menghakimi organisasi yang baru memulai perjalanan.
Baca Juga:31 Oktober, Penerbangan di Bandara Wiriadinata Diujicoba LagiPengurus Baru Dilantik, PKB Kota Tasikmalaya Siap Rebut Kekuasaan
Bayi tidak bisa langsung dituntut berlari. Hanya saja, AMI jangan terlalu lama belajar berdiri, sementara persoalan kota sudah berlari ke mana-mana.
Sebab, Tasikmalaya tidak kekurangan seminar, diskusi, dan organisasi. Yang masih perlu diperbanyak adalah gagasan yang benar-benar dikerjakan.
