Jalan rusak tidak sembuh karena seminar. Pengangguran tidak berkurang karena deklarasi. UMKM tidak otomatis berkembang hanya karena pemiliknya berfoto bersama narasumber.
Acara boleh selesai dalam sehari. Persoalan masyarakat tidak selesai hanya karena acara ditutup dengan doa.
Karena itu, saya berharap AMI tidak berhenti menjadi penyelenggara kegiatan. Kata Institute membawa tanggung jawab yang lebih besar: mengkaji persoalan, menguji gagasan, dan menawarkan solusi.
Baca Juga:Orang Tua Harus Sering Ngobrol untuk Melindungi Anak dari Dampak Negatif Teknologi DigitalSampah di Pasar Padayungan Tasikmalaya Membludak Tutupi Jalan
Kalau hanya ingin berkumpul, banyak tempat yang bisa dipakai. Tetapi, kalau ingin menjadi ruang intelektual, AMI harus berani berpikir sampai tuntas.
Saya mengapresiasi kehadiran H. Budi Mahmud Saputra yang mengikuti acara hingga selesai.
Ia punya pandangan bahwa generasi hari ini layak diberi karpet merah dan ruang kreativitas yang terbuka. Saya setuju.
Tetapi, karpet merah yang dibutuhkan anak muda bukan sekadar jalan menuju panggung. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bekerja, ruang untuk berkreasi, dan kepercayaan untuk menguji gagasan.
Anak muda tidak membutuhkan terlalu banyak orang dewasa yang berkata, “Kalian adalah masa depan.”
Mereka membutuhkan orang dewasa yang bersedia membuka jalan agar masa depan itu bisa dikerjakan hari ini.
Budi Mahmud pun tampil segar dengan celana hitam, kemeja putih, blazer abu-abu, dan sepatu slip-on hitam.
Baca Juga:31 Oktober, Penerbangan di Bandara Wiriadinata Diujicoba LagiPengurus Baru Dilantik, PKB Kota Tasikmalaya Siap Rebut Kekuasaan
Rupanya, ia memahami satu hal: di depan anak muda, penampilan orang dewasa juga bisa menjadi bahan penilaian.
Namun, penampilan hanya pembuka. Yang lebih penting adalah apakah setelah memberi karpet merah, pintunya benar-benar dibuka.
AMI kini dinakhodai Muhammad Jausan Kamil, yang biasa saya panggil Boy. Ia merupakan anak muda progresif yang gemar membaca buku-buku berat.
Ayahnya, Budi Hermawan, merupakan ASN di Kota Tasikmalaya yang dikenal terbiasa mengkaji dan menganalisis persoalan secara komprehensif. Keduanya, bersama Hj. N. Vera Amalia, hadir dalam acara tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap amanah yang diemban Boy.
Saya berharap kebiasaan membaca dan berdiskusi itu menjadi modal Boy memimpin AMI.
Bersama Lukmanul Hakim dan kawan-kawannya, ia ingin menjadikan AMI sebagai wadah kreativitas, aktualisasi, inovasi, dan gagasan anak muda.
