Wali Kota Umumkan Orang Miskin di Kota Tasikmalaya Turun!

Kemiskinan kota tasikmalaya
Ilustrasi AI/Chat GpT
0 Komentar

Semua terdengar masuk akal.Tetapi, di antara tujuh program itu, ada satu pekerjaan rumah yang tidak boleh terlupakan: memastikan warga punya penghasilan yang cukup.

Sebab kota yang bersih belum tentu membuat dapur warga mengepul. Kota yang nyaman belum otomatis membuat pedagang mendapat pembeli. Pelayanan yang cepat juga belum tentu membuat orang yang menganggur segera memperoleh pekerjaan.

Dan warga yang rajin berolahraga tetap membutuhkan uang untuk membeli beras setelah selesai berlari.

Baca Juga:Bantuan Becak Listrik Datang Lagi 250 Unit, Sarana Pengisian Baterai Masih Dirancang Pemkot TasikmalayaAsep MP Hadir, Suaranya Absen!

Di sinilah ukuran keberhasilan pemerintah menjadi lebih menarik daripada sekadar angka persentase.

Berapa banyak usaha kecil yang bertahan? Berapa banyak lapangan kerja baru yang tercipta? Berapa keluarga yang tidak lagi bergantung pada bantuan? Berapa anak yang bisa melanjutkan sekolah tanpa membuat orang tuanya berutang?Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk mengecilkan capaian pemerintah.

Justru sebaliknya. Agar capaian tersebut bisa dibuktikan sampai ke ruang paling pribadi masyarakat: dapur, meja makan, dan dompet.

Sebab kemiskinan bukan hanya persoalan angka di dalam laporan. Kemiskinan juga persoalan pilihan hidup yang semakin sempit.

Orang miskin sering kali harus memilih bukan antara membeli barang bagus atau barang murah, melainkan antara membayar listrik atau membeli lauk.

Itu sebabnya, ketika angka kemiskinan turun, pemerintah layak mendapat apresiasi. Tetapi apresiasi paling penting bukanlah tepuk tangan di ruang rapat.Melainkan ketika seorang ibu tidak lagi harus berutang untuk membeli beras.

Ketika seorang ayah tidak lagi pulang dengan kecemasan karena besok belum tentu ada pekerjaan. Ketika anak-anak bisa belajar tanpa dihantui kesulitan biaya.Di situlah statistik menemukan wajah manusianya.

Baca Juga:Lapak Parkir Dadaha Perlu Dipelototi Minimal Sebulan, Untuk Menentukan Potensi dan Target PendapatanPengangkatan Dewas RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya Bisa Batal Demi Hukum, Pemkot Disarankan Rekrutmen Ulang

Dan ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Penurunan dari 10,84 persen menjadi 9,34 persen merupakan penurunan sebesar 1,5 poin persentase, bukan sekadar penurunan 1,5 persen. Perbedaan istilah ini penting agar publik tidak salah membaca capaian yang diumumkan.

Data resmi BPS juga perlu menjadi rujukan untuk memastikan periode pengukuran dan jumlah penduduk miskin yang sebenarnya.

Sebab dalam pemerintahan, mengumumkan keberhasilan itu penting. Memastikan keberhasilan itu nyata jauh lebih penting.

0 Komentar