Parkir Dadaha Kota Tasikmalaya Tak Masuk PAD, UPTD Belum Punya Dasar Penentuan Target

Parkir dadaha kota tasikmalaya
Deretan sepeda terparkir di kawasan GOR Susi Susanti Dadaha yang belum jadi potensi PAD, Senin (12/10/2026). (Rangga Jatnika/Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID–Dalam proses penataan Dadaha yang dilakukan Pemkot Tasikmalaya, salah satu yang menjadi sorotan yakni urusan parkir. Namun belum adanya dasar rujukan target, pemerintah belum menjadikan merealisasikan pendapatan retribusi parkir di Dadaha.

Kawasan Dadaha memiliki sejumlah area yang difungsikan untuk keperluan parkir pengunjung. Meskipun para pengendara melakukan pembayaran, uang tersebut tidak masuk sebagai retribusi dan menjadi PAD Kota Tasikmalaya.

Kepala UPTD Pengelola Komplek Dadaha Dadang Ismail menerangkan bahwa pihaknya sudah memetakan area-area yang menjadi ruang parkir. Di antaranya yakni area depan Masjid Mujahidin sampai kolam renang Asia, lingkungan GOR Sukapura, GGC, GGM, Gor Susi Susanti dan alun-alun Dadaha dan area parkir di bahu jalan Dadaha. “Kalau untuk sarana parkir, kami sudah punya pemetaan,” ujarnya.

Baca Juga:Pj Ketua Buka-bukaan Masalah Mukota Kadin Kota Tasikmalaya, Mulai Pelanggaran Kepres Sampai Calon TitipanJangan Sibuk Menghitung Pilkada!

Soal optimalisasi PAD, awalnya pihaknya memang memanfaatkan area parkir sebagai salah satu objek retribusi. Namun realisasinya, masih terbilang janggal karena dari seluruh kawasan, yang masuk hanya Rp 3,6 juta perbulan.

“Kami melihat itu terlalu kecil dan belum memiliki acuan target, sehingga sudah lama kita stop,” ungkapnya.

Maka dari itu, sampai saat ini pihaknya baru bisa memberikan pelayanan sarana parkir tanpa timbal balik retribusi. Hal itu akan diterapkan setelah ada terget yang objektif yang didasari kajian tim appraisal. “Kalau belum ada dasar itu, ya kami tidak mengambil retribusi parkir,” terangnya.

Disinggung kapan itu akan direalisasikan, Dadang pun belum bisa memberikan kepastian karena sementara ini belum ada anggaran untuk menyusun kajian tersebut. “Belum ada anggarannya, termasuk untuk pengadaan karcis serta seragam petugas,” katanya.

Kendati demikian, area parkir di kawasan Dadaha tetap dijaga oleh sejumlah orang yang mengatasnamakan warga lokal. Selayaknya di tempat parkir, pengunjung yang parkir pun mengeluarkan uang sebagai biaya parkir.

Di sisi lain, Ketua Forum Silaturahmi RT RW Kota Tasikmalaya Deden Tazdad mendorong optimalisasi retribusi serta manajemen parkir di kawasan Dadaha. Pasalnya dia melihat potensinya sangat besar bagi PAD Kota Tasikmalaya. Potensi ini sangat besar untuk dikelola secara resmi demi mencegah kebocoran dan mendongkrak PAD,” ungkapnya.

0 Komentar