TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persaingan bisnis ritel semakin menuntut pusat perbelanjaan untuk memahami selera konsumen.
Plaza Asia Tasikmalaya membaca peluang tersebut dengan menghadirkan sejumlah merek baru, mulai dari kedai kopi hingga produk kuliner yang tengah populer di kalangan generasi Z (Gen Z).
Terbaru, jaringan kedai kopi asal Indonesia, Fore, resmi membuka gerai di Plaza Asia Tasikmalaya pada Sabtu (10/10/2026).
Baca Juga:Ketidakharmonisan Viman-Diky Jadi Sorotan, ASN Terancam Terjebak Kubu-KubuanDinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan Kekuasaan
Kehadiran Fore akan disusul sejumlah jenama lain yang dijadwalkan membuka gerai secara bertahap hingga awal November mendatang.
Berdasarkan pantauan Radar, sejumlah tenant bahkan mulai memasang spanduk pemberitahuan grand opening.
Dua di antaranya adalah Watsons dan Sancha yang direncanakan hadir di lantai LGF Plaza Asia.
Manager Marketing Plaza Asia Tasikmalaya, Lucy Sosilawaty, mengatakan pembukaan gerai baru tersebut telah dijadwalkan secara bertahap.
Meski demikian, realisasinya tetap menyesuaikan kesiapan masing-masing merek.
“Mudah-mudahan sesuai jadwal. Fore tanggal 10 Oktober, Sour Sally 24 Oktober, Taro O 25 Oktober, Sancha dan Watsons rencana awal November, dan Tianlala masih dalam proses,” ungkapnya kepada Radar, Jumat (9/10/2026).
Masuknya sejumlah merek baru tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan bisnis Plaza Asia Tasikmalaya.
Menurut Lucy, kondisi saat ini berbeda dibandingkan masa awal pengembangan mal, ketika pengelola harus aktif menawarkan peluang kepada merek-merek besar agar bersedia membuka gerai.
Baca Juga:Ketika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh SantunViman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!
Kini, situasinya berbalik. Sejumlah calon penyewa justru datang dengan mengajukan diri untuk bergabung.
Tantangannya, pengelola harus menyesuaikan tingginya permintaan dengan ketersediaan ruang usaha.
“Sekarang itu alhamdulillah banyak waiting list yang mau menunggu di sini,” terangnya.
Lucy menyebut sektor makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) menjadi salah satu kategori usaha yang banyak diminati calon tenant.
Tren tersebut sejalan dengan perubahan perilaku konsumen, khususnya Gen Z, yang relatif dekat dengan perkembangan kuliner, produk baru, dan rekomendasi viral di media sosial.
Bagi pengelola pusat perbelanjaan, tren digital kini bukan sekadar urusan konten, melainkan juga dapat menjadi bahan membaca peluang pasar.
Respons warganet terhadap sebuah merek bisa menjadi gambaran awal mengenai besarnya rasa penasaran konsumen sebelum gerai benar-benar dibuka.
