PANGANDARAN, RADSIK.ID — Petunjuk jalur evakuasi di kawasan wisata Pangandaran menjadi sorotan.
Papan penunjuk yang mengarahkan warga maupun wisatawan menuju kawasan Cagar Alam Pananjung dipertanyakan, mengingat lokasi konservasi tersebut dinilai tidak ideal sebagai tempat berlindung ketika tsunami atau gempa bumi megathrust melanda pesisir selatan Jawa Barat.
Di tengah ancaman bencana yang bisa datang tanpa banyak waktu untuk bersiap, arah evakuasi semestinya menjadi penuntun menuju keselamatan.
Baca Juga:Dinasti Literasi Komunitas Cermin Tasikmalaya, Wariskan Pengetahuan Bukan KekuasaanKetika Petarung Tarung Derajat Naik Vespa di Kota Tasikmalaya: Kalem, Ramah dan Penuh Santun
Bukan justru mengundang pertanyaan ketika kawasan yang dituju masih berada di wilayah rawan bahaya.
Kepala Resort Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah XXI Pangandaran, Kusnadi, menegaskan, kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam (TWA) Pangandaran masih memiliki risiko tinggi karena berbatasan langsung dengan garis pantai.
Karena itu, menurut dia, mengarahkan masyarakat ke kawasan tersebut saat kondisi darurat perlu dievaluasi.
Jalur evakuasi ideal semestinya membawa masyarakat menuju lokasi yang lebih aman, terutama dataran tinggi atau kawasan perbukitan yang jauh dari ancaman gelombang tsunami.
Salah satu lokasi yang dapat menjadi titik kumpul adalah Bukit Cikamal. Namun, persoalannya tidak sesederhana memasang papan penunjuk arah.
Jarak tempuh dari kawasan wisata pantai maupun TWA menuju bukit tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
“Bagi wisatawan yang telah berada di dalam TWA, bergerak ke Bukit Cikamal memang dapat menjadi opsi. Tetapi, penetapan rute evakuasi tetap harus memperhitungkan keselamatan serta kondisi medan secara matang,” kata Kusnadi kepada Radar, Senin (12/10/2026).
Baca Juga:Viman Jawab Emosi Diky yang Meledak soal Penataan Dadaha Kota Tasikmalaya!Lumiland Dadaha Resmi Dibuka, Wali Kota Tasik Bidik Efek Ekonomi dan Puluhan Ribu Siswa Bisa Masuk GratisĀ Ā
Menurut dia, pengalaman tsunami Pangandaran pada 2006 juga menjadi pengingat bahwa kawasan cagar alam bukan pilihan utama masyarakat untuk menyelamatkan diri.
Saat bencana tersebut terjadi, sebagian besar warga yang berada di kawasan pantai memilih bergerak keluar dari pesisir. Hanya sedikit orang yang masuk ke kawasan cagar alam.
“Pada saat itu, sebagian besar warga pantai memilih melarikan diri keluar dari kawasan pesisir, sementara hanya sedikit orang yang bergerak masuk ke dalam cagar alam,” jelasnya.
Kondisi tersebut memperkuat pentingnya evaluasi terhadap petunjuk jalur evakuasi yang terpasang di kawasan wisata.
