TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Musim kemarau di Kabupaten Tasikmalaya diperkirakan masih berlangsung hingga November 2026. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, hujan baru diprediksi meningkat secara signifikan pada Desember mendatang.
Kondisi tersebut membuat ancaman kekeringan masih perlu diwaspadai. Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Tasikmalaya Roni AKS menjelaskan, berdasarkan informasi BMKG hingga 1 Oktober 2026, sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia masih diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian.
Sementara itu, curah hujan kategori menengah sebesar 50–150 milimeter per dasarian diprediksi terjadi di 19,99 persen wilayah Indonesia. Sedangkan kategori tinggi, yakni 150–300 milimeter per dasarian, hanya mencakup sekitar 0,36 persen wilayah.
Baca Juga:Musyawarah KADIN Kabupaten Tasikmalaya Bakal Diulang, Dijadwalkan 21 Oktober 2026Lahan Perjuangan Jadi Simbol Harapan, OTL SPP Cineam Tasikmalaya Gelar Syukuran
“Jadi menurut informasi BMKG baru di Desemberan musim hujan terjadi secara signifikan. Jadi agak panjang musim kemarau tahun ini. Dampak El-Nino,” terang Roni kepada Radar, Rabu 7 Oktober 2026.
Untuk Jawa Barat, kondisi curah hujan juga masih diprediksi berada pada kategori bawah normal, yakni kurang dari 85 persen dibandingkan rata-rata curah hujan selama 30 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan ancaman kekeringan meteorologis masih ada, termasuk di Kabupaten Tasikmalaya.
Meski demikian, curah hujan di wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai membaik pada November 2026. Hingga hujan meningkat secara signifikan pada Desember, BPBD masih mengantisipasi dampak kemarau panjang, terutama kekurangan air bersih dan kebakaran.
Menurut Roni, kebakaran lahan dan hutan menjadi salah satu dampak yang paling dikhawatirkan akibat kemarau berkepanjangan. Di Jawa Barat tercatat sekitar 1.200 titik api.
Khusus di Kabupaten Tasikmalaya, sepanjang September 2026 BPBD mencatat sekitar 47 kejadian kebakaran lahan dan hutan. Sementara secara keseluruhan, hingga awal Oktober 2026 jumlah kejadian kebakaran telah mencapai 101 kasus.
Dari kejadian tersebut, sebanyak 74 rumah terbakar dengan tingkat kerusakan ringan, sedang hingga berat. Terbaru, kebakaran lahan terjadi di kawasan hutan jati Cipatujah pada awal Oktober dengan luas sekitar 10 hektare. Kebakaran tersebut berhasil dikendalikan petugas pemadam kebakaran.
Di sisi lain, kemarau panjang juga berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Berdasarkan laporan dari desa dan kecamatan hingga 6 Oktober 2026, BPBD menerima 139 laporan kekurangan air bersih yang tersebar di 34 kecamatan dan 83 desa.
