Dia menegaskan sosialisasi seharusnya dilakukan sejak tahap perencanaan, bukan ketika pekerjaan sudah berjalan.
Sebab, pembangunan pada dasarnya harus memberikan manfaat bagi masyarakat. Jangan sampai proyek yang seharusnya menjadi solusi justru melahirkan persoalan baru.
“Jangan sampai ada pembangunan yang kalah bermanfaat, malah lebih merugikan. Biayanya besar, tapi papan proyeknya saja saya tidak tahu,” bebernya.
Baca Juga:HUT Ke-81 TNI di Kota Tasikmalaya: Kekuatan Prajurit Ditegaskan Harus Selalu Bersama RakyatWarga Tolak Alih Fungsi 17 Hektare Sawah Setiajaya Kota Tasikmalaya, Ingatkan Larangan Gubernur Jabar
Zenzen juga meminta pengerjaan pada bagian yang bermasalah dihentikan sementara sampai persoalan teknisnya jelas.
“Kita mau meluruskan. Selama urusan itu belum tuntas, mohon dihentikan dulu ini. Yang tidak ada masalah silakan dilanjutkan. Tapi yang ada masalah jangan dipaksakan,” tegasnya.
Menurut dia, aliran tersebut berkaitan dengan sistem irigasi Rancabadak yang selama ini dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan kolam warga.
Karena itu, keberadaan pintu air dinilai penting. Selain mengantisipasi banjir, pintu air dibutuhkan untuk mengatur distribusi air ketika memasuki musim kemarau.
“Ini irigasi teknis. Itu mengairi sawah dan balong. Kebutuhan air masyarakat di hilir jangan sampai jadi problem,” katanya.
Zenzen juga mempertanyakan efektivitas desain yang sedang dikerjakan jika tidak dilengkapi mekanisme pengaturan aliran.
Menurutnya, persoalan baru justru dapat muncul, mulai dari aliran air, sampah yang tersangkut hingga siapa yang bertanggung jawab melakukan pemeliharaan.
Baca Juga:HUT ke-25 Kota Tasikmalaya Tak Mau Sekadar Seremoni, Viman Dorong City Branding dan 25 Event KolaboratifGebyar Mancing Siliwangi Warnai HUT ke-81 TNI, Kodim 0612 Tasikmalaya Dekatkan Diri dengan Warga
“Jangan sampai niatnya menyelesaikan masalah banjir, malah timbul masalah baru. Pintunya di mana? Kalau sampah menumpuk, siapa yang mengurus?” sarannya.
Sementara itu, Lurah Sukaasih, Deden Wahyu, menjelaskan pihak kelurahan pada awalnya menerima informasi mengenai pekerjaan pengaspalan.
Namun, informasi tersebut tidak menjelaskan secara rinci pekerjaan teknis yang kemudian menyentuh saluran irigasi.
“Awalnya ada pemberitahuan proyek pengaspalan. Tapi tidak menjelaskan spesifik teknis pengerjaannya,” kata Deden.
Persoalan muncul setelah pekerjaan masuk pada bagian sodetan atau saluran irigasi. Warga melalui para ketua RW kemudian meminta penjelasan kepada kelurahan.
Deden mengaku pihak kelurahan tidak menguasai detail teknis pekerjaan. Karena itu, kelurahan memilih memfasilitasi pertemuan dengan sejumlah pihak terkait untuk mencari kejelasan.
“Kami selaku lurah memfasilitasi warga yang terdampak oleh sodetan dan meminta kejelasan secara teknis seperti apa,” paparnya.
