Ia memberikan lima karakter yang harus dimiliki kader Gerindra Ciamis: integritas, disiplin, melayani, adaptif dan solid. Lima kata.
Tetapi kalau dijalankan, bisa menjadi pekerjaan lima tahun. Integritas berarti menjaga kepercayaan. Disiplin berarti tertib dalam organisasi. Melayani berarti hadir bagi masyarakat.
Adaptif berarti mampu mengikuti perubahan teknologi dan komunikasi. Solid berarti tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.
Baca Juga:Di Kota Tasikmalaya, Oktober Diprediksi Masih KeringDorong Pendidikan yang Adaptif, BNI dan Unpad Perkuat Kolaborasi
Sebab dalam politik, kata Amir, perbedaan pasti ada. Yang tidak boleh ada adalah perpecahan. Tiga Tahun yang Terlihat Panjang. Pemilu 2029 masih sekitar tiga tahun lagi. Bagi kalender, tiga tahun memang panjang. Bagi organisasi politik, ternyata pendek.
Amir meminta DPC Gerindra Ciamis tidak menunggu masa kampanye untuk bekerja. Konsolidasi struktur harus segera dituntaskan hingga tingkat ranting dan basis TPS.
Data politik harus dirapikan. Potensi wilayah harus dipetakan. Persoalan masyarakat harus diketahui. Pemilih muda harus didekati. Tokoh masyarakat harus dirangkul.
Petani, pelaku UMKM, pekerja, perempuan dan masyarakat desa harus menjadi bagian dari perhatian organisasi. Politik, menurut Amir, harus terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan hanya terasa ketika surat suara sudah berada di tangan. Karena itu ia meminta DPC menyiapkan peta jalan menuju 2029. Bukan sekadar slogan.
Tetapi peta yang berisi struktur, wilayah prioritas, kaderisasi, sekolah politik, pelayanan masyarakat, advokasi aspirasi, pembinaan saksi serta strategi komunikasi.
Dan semuanya harus punya indikator. Sebab target yang tidak mempunyai angka hanyalah keinginan. Target yang tidak mempunyai penanggung jawab hanyalah tulisan.
Baca Juga:BNI Bikin Keseruan Jatinangor Music Fest Makin LengkapDari Iwan Saputra ke Demi Hamzah: Estafet Senapan, Estafet Prestasi!
Target yang tidak dievaluasi akhirnya hanya menjadi spanduk yang lupa diturunkan. Rumah Perjuangan, Bukan Rumah Seremonial Ada satu pesan Amir yang barangkali paling sederhana.
Jangan menunggu baliho terpasang untuk turun ke masyarakat. Jangan menunggu calon ditetapkan untuk membangun jaringan. Jangan menunggu persoalan menjadi besar untuk memberikan pertolongan.
Artinya, politik harus dimulai jauh sebelum kampanye. Dari desa. Dari kecamatan. Dari rumah-rumah warga. Dari persoalan kecil yang kadang tidak masuk kamera.
Di situlah ukuran sebuah sekretariat partai diuji. Bukan berapa luas gedungnya. Bukan berapa mahal interiornya.
