Tim kedua adalah Prancis saat ini melalui Mbappe, Dembele, dan Olise.
Meski begitu, ini bukan pertama kalinya Prancis memiliki lini depan yang menakutkan.
Pada Piala Dunia 1958, Les Bleus juga memiliki generasi emas yang dipimpin Just Fontaine, pemegang rekor 13 gol dalam satu edisi Piala Dunia yang hingga kini belum mampu dipecahkan siapa pun.
Baca Juga:AS Roma Siapkan Rp900 Miliar untuk Boyong Mason Greenwood, El Aynaoui dan Dovbyk Terancam Jadi KorbanJuventus Siap Korbankan Thuram, Kessie dan Lobotka Masuk Daftar Belanja untuk Bangun Lini Tengah Baru
Saat itu Fontaine didukung Raymond Kopa, Roger Piantoni, dan Maryan Wisnieski.
Kuartet tersebut membawa Prancis mencetak 23 gol hanya dalam enam pertandingan, atau rata-rata hampir empat gol setiap laga.
Sayangnya, perjalanan mereka terhenti di semifinal setelah bertemu Brasil.
Justru di turnamen itulah dunia menyaksikan lahirnya generasi emas Brasil.
Pelatih Vicente Feola mengambil keputusan berani dengan memainkan Pele yang baru berusia 17 tahun bersama Garrincha, Vava, dan Zagallo.
Hasilnya luar biasa. Brasil mencetak lima gol ke gawang Prancis di semifinal dan kembali mencetak lima gol saat menghancurkan Swedia di final untuk meraih gelar juara dunia pertama mereka.
Namun, banyak sejarawan sepak bola sepakat bahwa lini serang terbaik Brasil justru hadir pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.
Saat itu Pele memimpin barisan pemain luar biasa yang dihuni Jairzinho, Tostao, Rivelino, dan Gerson.
Jairzinho mencetak gol di setiap pertandingan sepanjang turnamen, sedangkan Pele mengangkat trofi Piala Dunia ketiganya, sebuah rekor yang hingga kini belum pernah disamai pemain lain.
Baca Juga:Inter Milan Kepincut Bek Sayap Israel, Siapkan Rp500 Miliar untuk Biaya TransferAC Milan Lakukan Serangan Kilat untuk Mario Gila, Lazio Minta Mahar Rp600 Miliar
Selain Brasil 1970, edisi 2002 juga sering disebut sebagai salah satu lini serang terbaik sepanjang masa.
Ronaldo menjadi top skor turnamen dengan delapan gol, sementara Rivaldo dan Ronaldinho melengkapi trio yang membawa Brasil meraih gelar juara dunia kelima.
Tak hanya Brasil, beberapa negara lain juga pernah memiliki lini depan yang dikenang sepanjang sejarah.
Italia tampil luar biasa saat menjuarai Piala Dunia 1938 lewat Giuseppe Meazza, Silvio Piola, Amedeo Biavati, dan Gino Colaussi.
Hungaria pada 1954 memiliki Ferenc Puskas, Sandor Kocsis, Nandor Hidegkuti, serta Zoltan Czibor yang mendominasi Eropa sebelum akhirnya kalah dramatis dari Jerman Barat di final.
Belanda era 1974 juga menghadirkan revolusi sepak bola total melalui Johan Cruyff, Johnny Rep, Rob Rensenbrink, dan Johan Neeskens.
