“Di Spanyol, tidak normal melihat pemain pindah dari Real Madrid ke Atletico. Di Italia lebih biasa melihat seseorang bermain untuk Milan maupun Inter. Ini sepak bola, orang seharusnya bisa memahaminya,” jelas Morata.
Meski pernah menghadapi kritik dan penolakan, Morata menegaskan bahwa dirinya tidak menyimpan dendam terhadap siapa pun.
Ia bahkan masih memiliki hubungan baik dengan sejumlah pemain Real Madrid dan tetap mengikuti perkembangan mantan klubnya.
Baca Juga:Tim Favorit Pemenang Piala Dunia 2026 Versi Zanetti: Perancis Kandidat Terkuat, Maroko Kuda HitamInter Milan Sudah Hasilkan Dana Rp600 Miliar dari Bursa Transfer
“Saya tidak membenci siapa pun. Dani Carvajal adalah teman saya dan saya tetap mendukung mereka,” katanya.
Namun di atas segalanya, Atletico Madrid tetap memiliki tempat khusus di hatinya.
Morata bahkan mengaku ingin anak-anaknya menjadi pendukung Atletico karena filosofi klub tersebut mencerminkan kehidupan yang sesungguhnya: penuh perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan.
“Saya ingin anak-anak saya mendukung Atletico. Menurut saya, hidup sangat mirip dengan Atletico. Anda harus berjuang terus-menerus untuk meraih sesuatu,” tuturnya.
Ia lalu menyinggung sosok kapten Koke dan pelatih Diego Simeone yang terus mengejar trofi Liga Champions selama bertahun-tahun tanpa menyerah.
“Ketika saya melihat Koke, Simeone, dan semua orang di sana terus mengejar Liga Champions selama bertahun-tahun, lalu kembali memulai dari nol setiap musim, saya benar-benar kagum. Saya tidak tahu apakah saya bisa melakukan hal yang sama,” pungkas Morata.
Pengakuan tersebut memperlihatkan sisi lain perjalanan karier Morata, termasuk alasan di balik transfer singkatnya ke AC Milan yang ternyata terjadi di tengah periode sulit dalam kehidupannya, baik sebagai pesepak bola maupun sebagai pribadi.
