Kehadiran Santiago Gimenez sebagai target utama Rossoneri membuat Morata merasa posisinya tidak lagi menjadi prioritas.
Akhirnya, pada Februari 2025, ia memilih menerima tawaran Galatasaray dan meninggalkan San Siro lebih cepat dari yang diperkirakan.
Dalam wawancara yang sama, Morata juga mengungkapkan bahwa hingga kini ia masih menyimpan perasaan campur aduk terkait keputusannya meninggalkan Atletico Madrid.
Baca Juga:Tim Favorit Pemenang Piala Dunia 2026 Versi Zanetti: Perancis Kandidat Terkuat, Maroko Kuda HitamInter Milan Sudah Hasilkan Dana Rp600 Miliar dari Bursa Transfer
Ia mengaku merasa pergi pada saat yang salah, tepat ketika merasa akhirnya diterima sepenuhnya oleh para pendukung klub.
“Saya tidak tahu bagaimana para pendukung Atletico memandang saya sekarang. Tetapi saya merasa sedih karena pergi justru ketika saya merasa mereka akhirnya memahami dan menghargai saya,” katanya.
Morata mengakui bahwa keputusan hengkang dari Atletico lebih didorong oleh perasaan bersalah dan tekanan psikologis yang ia rasakan saat itu.
“Saya pikir saya pergi karena rasa bersalah. Atletico selalu menjadi salah satu klub terbaik di dunia. Jika saya tahu apa yang akan terjadi setelahnya, mungkin saya akan membuat keputusan berbeda,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku sebenarnya tetap akan bertahan di Atletico meskipun klub kemudian mendatangkan pemain lain untuk memperkuat lini serang.
Morata juga berbicara tentang situasi unik yang dialaminya sebagai pemain yang pernah membela dua rival sekota, Atletico Madrid dan Real Madrid CF.
Menurutnya, sebagian pendukung Atletico sulit menerima fakta bahwa ia pernah bermain untuk Real Madrid. Di sisi lain, sebagian pendukung Madrid juga tidak menyukai kedekatannya dengan Atletico.
Baca Juga:Damien Comolli Hengkang, Rencana Juventus Datangkan Sorloth dan Kolo Muani Bisa BerantakanSiapa Julian Quinones? Pencetak Gol Perdana di Piala Dunia 2026 yang Lebih Tajam dari Ronaldo
“Dulu bahkan sulit berjalan di jalanan. Ada fans Atletico yang tidak menerima saya, sementara sebagian fans Real Madrid terganggu karena saya selalu mengaku menyukai Atletico,” katanya.
Morata menilai banyak orang gagal memahami bahwa sepak bola adalah profesi, sama seperti pekerjaan lainnya.
“Saya bermain untuk Real Madrid karena kesempatan itu datang. Saya sangat bersyukur kepada mereka. Tetapi orang sering lupa bahwa ini adalah pekerjaan,” ujarnya.
Ia kemudian membandingkan situasi di Spanyol dengan Italia, di mana perpindahan pemain antara klub rival dianggap lebih wajar.
