Masalah Sampah di Kota Tasikmalaya Masih Bau Politik Lama, Forsil: Solusi Jangan Tertinggal di Belakang Truk

pengolahan sampah modern di Kota Tasikmalaya
Ketua Umum Forsil RT/RW Kota Tasikmalaya, Deden Tazdad Hubban. Istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Wacana proyek pengolahan sampah modern senilai Rp80 triliun yang digagas Danantara dan BRIN mulai disambut berbagai kalangan di Kota Tasikmalaya.

Di tengah gunungan sampah yang terus jadi pekerjaan rumah lintas zaman wali kota, Forum Silaturahmi (Forsil) RT/RW Kota Tasikmalaya menilai momentum itu jangan hanya berhenti jadi bahan rapat dan spanduk seremonial.

Ketua Umum Forsil RT/RW Kota Tasikmalaya, Deden Tazdad Hubban mengatakan persoalan sampah di Kota Tasikmalaya sudah terlalu lama berputar dalam lingkaran klasik: volume terus bertambah, sementara solusi sering kali tertinggal di belakang truk pengangkut.

Baca Juga:Kasus Thalasemia di Kota Tasikmalaya Tembus 300 Orang, PMI Krisis 600 Kantong Darah Tiap BulanSampah Kota Tasikmalaya Belum Capai Syarat Proyek Rp80 Triliun, DPRD: TPA Jangan Jadi Kuburan Lahan

“Ini kesempatan baik. Persoalan sampah ini kan sudah berlarut-larut dari periode ke periode wali kota. Volume sampah terus bertambah, baik karena jumlah penduduk maupun pola konsumsi masyarakat,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, program pengolahan sampah modern harus benar-benar dijemput pemerintah daerah, bukan sekadar menunggu turun dari pusat.

Apalagi, persoalan sampah dinilai jauh lebih mendesak dibanding program lain yang efeknya belum tentu langsung terasa di masyarakat.

“Kalau sampah mah saya 1000 jempol setuju. Ini masalah klasik yang nyata dirasakan masyarakat,” katanya.

Deden menilai Pemerintah Kota Tasikmalaya perlu menyiapkan kajian mendalam sebelum masuk ke proyek besar pengolahan sampah berbasis energi tersebut.

Kajian itu bukan hanya akademik, tetapi juga harus menyentuh kultur masyarakat dan pola kebijakan pemimpin sebelumnya yang hingga kini belum mampu menuntaskan persoalan sampah.

Ia menyebut Kota Tasikmalaya memiliki cukup banyak perguruan tinggi yang bisa dilibatkan untuk menyusun kajian akademik, mulai dari Poltekkes, BTH, Unsil hingga kampus lainnya.

Baca Juga:Knalpot Brong Bikin Tasik Berisik, 13 Motor Diamankan Jelang Euforia Persib JuaraRazia Miras di Tasikmalaya Digencarkan, 53 Botol Disita dari Tiga Titik Rawan Penyakit Masyarakat

“Nah kajian kultur juga penting. Karena semua wali kota sebelumnya pasti punya cita-cita membereskan sampah, tapi faktanya sampai sekarang masih jadi problem,” sindirnya.

Forsil juga mendorong konsep pengolahan sampah berbasis wilayah.

Menurut Deden, daripada memaksakan seluruh kelurahan sekaligus, Pemkot bisa memulai dengan membangun titik pengolahan sampah di 10 kecamatan.

“Jangan muluk-muluk dulu sampai 69 kelurahan. Minimal 10 kecamatan punya titik pengolahan sampah sendiri,” tuturnya.

0 Komentar