Ia menilai konsep itu bisa dikolaborasikan dengan daerah penyangga di sekitar Kota Tasikmalaya.
Sebab, secara geografis dan aktivitas ekonomi, persoalan sampah juga bersinggungan dengan wilayah kabupaten sekitar.
“Pengkot bisa jadi inisiator kolaborasi dengan daerah tetangga seperti Kabupaten Tasikmalaya di Cineam, Manonjaya, Salopa, Gunung Tanjung sampai Kabupaten Ciamis, Sindangkasih dan Cihaurbeuti. Tinggal ada kemauan untuk mengusahakannya,” katanya.
Baca Juga:Kasus Thalasemia di Kota Tasikmalaya Tembus 300 Orang, PMI Krisis 600 Kantong Darah Tiap BulanSampah Kota Tasikmalaya Belum Capai Syarat Proyek Rp80 Triliun, DPRD: TPA Jangan Jadi Kuburan Lahan
Sebelumnya diberitakan, Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Heri Ahmadi menilai persoalan sampah tak bisa hanya diselesaikan di hilir tanpa membangun kesadaran masyarakat sebagai penghasil sampah.
Sementara itu, Plh Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengakui Kota Tasikmalaya belum memenuhi syarat minimal proyek pengolahan sampah berbasis energi karena produksi sampah harian baru sekitar 300 ton per hari, jauh dari syarat minimal 1.000 ton.
Karena itu, skema regional bersama daerah sekitar dinilai menjadi opsi paling realistis.
Di sisi lain, pemerhati sosial Ade Ruhimat menyindir pola penanganan sampah saat ini masih sebatas “memindahkan alamat” sampah ke TPA tanpa pengolahan yang benar-benar tuntas. (rezza rizaldi)
