Pembelian Bisa Sistem Kredit, AC Milan Tertarik Boyong Ismael Kone

Ismael Kone
Ismael Kone Foto: Tangkapan layar Instagram@hollywood.ik
0 Komentar

Koné menjelaskan bahwa kini dirinya jauh lebih disiplin dibanding beberapa tahun lalu dan bahkan memiliki pelatih fisik pribadi yang rutin datang ke rumah setiap hari untuk membantu program latihan tambahan.

“Saya lebih memperhatikan makanan, tidur, dan semua detail kecil. Hal-hal seperti itu membuat perbedaan besar,” ujarnya.

Perkembangan itu membuat Koné mulai dianggap sebagai salah satu gelandang muda paling menarik di Serie A.

Baca Juga:Fans AC Milan Usir Furlani: Tuding Manajemen Jadikan Klub Alat Cari KeuntunganLautaro Martinez: Chivu Tak Membuang Taktik yang Dibangun Simone Inzaghi

Kemampuan membawa bola, visi bermain, kekuatan fisik, dan keberanian melakukan penetrasi menjadi nilai tambah yang membuat Milan tertarik.

Selain itu, Koné juga dikenal memiliki karakter pekerja keras dan mental kuat. Ia bahkan pernah mengalami awal yang sulit di Italia setelah menerima kartu merah pada laga debutnya melawan Napoli.

“Saat itu kami kalah dan saya tidak bisa mengendalikan emosi. Saya sangat sedih karena ingin tim percaya kepada saya,” kenangnya.

Beruntung, situasi perlahan membaik dan Koné mampu membuktikan kualitasnya di Sassuolo.

Dalam wawancara tersebut, ia juga memuji pelatih Fabio Grosso yang dianggap punya pengaruh besar terhadap perkembangannya.

“Hubungan kami sangat baik, bukan hanya secara teknis tetapi juga secara manusiawi. Dia mengerti ke mana saya ingin berkembang,” puji Koné.

Tak hanya itu, pemain Kanada tersebut juga membahas pengalamannya bekerja bersama Roberto De Zerbi saat membela Olympique de Marseille.

Baca Juga:Rocchi Dituduh Atur Wasit yang Untungkan Inter Saat Hadapi AC MilanDaftar Striker Haus Gol Incaran AC Milan: Dari Vlahovic Hingga Jean-Philippe Mateta

Koné mengakui sempat mengalami ketegangan dengan De Zerbi karena perbedaan pandangan soal gaya bermain.

Sang pelatih ingin permainan cepat satu-dua sentuhan, sementara dirinya lebih suka memiliki kebebasan dalam mengolah bola.

Namun, hubungan keduanya kini sudah membaik.

“Beberapa minggu lalu saya bertemu Roberto di London dan dia langsung memeluk saya. Kami berbicara seperti tidak pernah terjadi apa-apa,” ungkap Koné.

Ia juga menyinggung antusiasme Kanada menjelang Piala Dunia. Koné merasa dirinya kini jauh lebih siap dibanding empat tahun lalu ketika tampil di Qatar dengan pengalaman profesional yang masih minim.

“Saya merasa jauh lebih matang sekarang. Tim kami juga berkembang,” tuturnya.

0 Komentar