“Sudah saatnya negara berhenti sekadar memuji guru dalam seremoni, tetapi mulai menghadirkan kebijakan yang berpihak. Karena kemajuan bangsa tidak pernah lahir dari pengabaian terhadap gurunya,” tegasnya.
Surat terbuka tersebut menjadi cermin keresahan yang selama ini mungkin hanya beredar di ruang-ruang diskusi terbatas, kini mengemuka ke ruang publik.
Kota Tasikmalaya, melalui suara pegiat pendidikannya, kembali mengingatkan bahwa masa depan pendidikan tak cukup dibangun dengan kata-kata—tetapi dengan keberpihakan yang nyata. (rezza rizaldi)
