Tiga Periode Tanpa Banyak Suara!

Bagas Suryono DPRD Kota Tasikmalaya
Bagas Suryono, Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Tasikmalaya. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Sejak itu, ia terus terpilih. 2014–2019. 2019–2024. Dan kini periode ketiga. Itu bukan pencapaian kecil.

Yang menarik justru di situ. Bagaimana seorang politisi yang jarang terdengar kritiknya, jarang muncul suaranya di ruang publik, bisa bertahan sampai tiga periode?

Itu pertanyaan penting. Karena di politik, suara keras bukan satu-satunya jalan. Kadang yang diam justru bertahan paling lama. Diam bisa berarti strategi. Bisa juga berarti kenyamanan. Atau mungkin kehati-hatian.

Baca Juga:BBM Non Subsidi Naik, Diky Candra Pilih “Parkir” Pajero Dinas Wakil Wali Kota TasikmalayaKasus Dugaan Penculikan Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Menggantung, Unsur Pidana Masih Didalami

Namun publik selalu berharap lebih dari sekadar kehadiran. Mereka ingin wakilnya bersuara. Mengkritisi. Mengingatkan. Bahkan sesekali melawan arus, jika kebijakan dianggap menyimpang dari kepentingan rakyat.

Apalagi bagi seorang Ketua Fraksi. Fraksi itu bukan hanya tempat duduk. Itu ruang untuk merumuskan sikap politik. Untuk menyampaikan kritik kolektif. Untuk menjaga keseimbangan antara pemerintah dan rakyat.

Jika fraksi sunyi, maka ruang kritik ikut mengecil. Bagas Suryono bukan politisi baru. Ia sudah melewati cukup banyak musim politik. Pernah menjadi pengurus partai. Pernah duduk di posisi strategis. Kini berada di lingkar anggaran.

Ia punya pengalaman. Ia punya posisi. Yang belum terlalu terlihat adalah gaungnya. Padahal, tiga periode itu seharusnya bukan sekadar angka. Ia mestinya menjadi momentum untuk meninggalkan jejak.

Jejak yang bisa diingat publik. Bukan hanya oleh pemilihnya di Cipedes dan Indihiang. Tapi juga oleh sejarah kecil kota ini.

Karena pada akhirnya, kursi dewan bukan soal berapa lama duduk di sana. Melainkan apa yang ditinggalkan setelah bangkit dari kursi itu. (red)

0 Komentar