RADARTASIK.ID— Di tengah padatnya ritme kompetisi Liga 1 Indonesia musim 2025/2026, jeda singkat menjelang Hari Raya membuka ruang bernapas bagi para pemain.
Bagi gelandang Dedi Kusnandar, momentum Idulfitri 1447 Hijriah bukan sekadar penanda kemenangan spiritual setelah Ramadan, melainkan juga kesempatan langka untuk kembali ke akar: keluarga dan kampung halaman.
Pemain yang akrab disapa Dado itu mengarahkan langkahnya ke Jatinangor, kawasan yang tak hanya menyimpan kenangan masa kecil, tetapi juga menjadi pusat berkumpulnya keluarga besar setiap Lebaran.
Baca Juga:Persib Kokoh Lebaran di Puncak, Adam Alis Ingatkan Rekan-Rekannya Tidak LengahPersib Terima Surat Agar Bek Tangguh Ini Dilepas, Timnya Bersiap Main di Playoff Piala Dunia 2026
Ia memanfaatkan jeda kompetisi sebagai ruang untuk menepi dari rutinitas sepak bola profesional yang nyaris tak memberi celah sepanjang musim.
Dado menuturkan bahwa tradisi Lebaran yang ia jalani tak banyak berubah dari tahun ke tahun.
Ia mengisi hari-hari tersebut dengan menetap di sekitar Jatinangor dan Bandung, sambil menikmati kebersamaan yang selama ini sulit diraih ketika jadwal pertandingan dan latihan menyita hampir seluruh waktunya.
Ia menilai, jeda kompetisi memberi kesempatan berharga untuk menghidupkan kembali kebiasaan berkumpul bersama keluarga seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Lebaran pasti seperti biasa, seperti tahun kemarin. Saya kalau di sini di Jatinangor dan di Bandung. Apalagi ada jeda kompetisi, kita ada kesempatan buat kumpul keluarga seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Di balik kesederhanaan rencana itu, tersimpan kerinduan yang jarang terungkap di tengah hiruk-pikuk stadion.
Dado menyadari bahwa pertemuan lengkap dengan keluarga besar menjadi kemewahan tersendiri.
Baca Juga:Menjelang Lebaran, Arema FC Launching Jersey Putih yang Elegan, Jadi Simbol Harapan BaruFrans Putros Tinggalkan Persib Bandung untuk Bergabung dengan Tim Ini, Dia Rela Tak Berlibur
Ia mengungkapkan bahwa momen Lebaran sering kali menjadi satu-satunya waktu dalam setahun ketika sanak saudara yang tersebar di berbagai kota bisa kembali pulang dan berkumpul di satu tempat.
Tak hanya keluarga, suasana Lebaran di rumahnya juga kerap berubah menjadi ruang temu bagi lingkaran pertemanan lama.
Ia menggambarkan bahwa rekan-rekannya menjadikan Jatinangor sebagai titik perjumpaan, tempat melepas rindu dan merajut kembali cerita-cerita yang sempat terputus oleh kesibukan masing-masing.
Di tengah ambisi menjaga performa bersama Persib Bandung yang terus bersaing di papan atas, Dedi Kusnandar menemukan keseimbangan.
Ia memilih pulang, bukan untuk berhenti, melainkan untuk mengisi ulang energi—sebelum kembali berlari di lapangan, membawa harapan bobotoh dan warna biru kebanggaan Bandung.
