Di sisi lain, pihak kontraktor juga diingatkan agar tidak sekadar menuntaskan pekerjaan fisik.
Proyek, kata Anang, bukan hanya soal berdiri atau tidaknya bangunan, tapi apakah sistemnya benar-benar bekerja.
“Jangan hanya selesai di atas kertas. Harus ada hasil nyata,” ujarnya.
Baca Juga:Pemancing Hilang di Kota Tasikmalaya Ditemukan, Sungai Ciwulan Tak Banyak BicaraJudul Konser Berubah-ubah, Netizen Kota Tasikmalaya Kian Ramai Menyentil
Temuan lain di lapangan pun tak kalah mengkhawatirkan. Sejumlah kabel instalasi dilaporkan mengalami gangguan teknis.
Jika dibiarkan, masalah ini bisa menjadi penghambat tambahan saat sistem akhirnya siap dioperasikan.
Padahal, keberadaan IPAL di TPA Ciangir memegang peran krusial dalam mengurangi dampak pencemaran dari air lindi—limbah cair yang dikenal sulit diolah.
Secara teknis, sistem ini memang tidak ditargetkan membuat air menjadi jernih sempurna, namun setidaknya mampu menurunkan kadar pencemar hingga memenuhi baku mutu lingkungan.
Kini, harapan itu masih menggantung. IPAL sudah berdiri, anggaran sudah habis, tapi fungsi belum juga lahir. Di Kota Tasikmalaya, proyek lingkungan kembali diuji: selesai dibangun, belum tentu selesai masalah. (ayu sabrina barokah)
