Oleh : Usman Kusmana
Selepas buka di hari ke 28 puasa, jari saya Kembali memainkan keyboard dan memandang layar monitor komputer. Pikiran menerawang kemana-mana, ada rasa sedih menggelayut di dada. Ramadhan sebentar lagi pergi meninggalkan. Orang sudah lebih banyak disibukan dengan persiapan lebaran, bukan menutup dengan semangat ibadah disisa hari dan malam bulan agung ini.
Jalanan sudah macet dengan kendaraan mereka yang pulang mudik ke kampung halamannya, mall dan pusat perbelanjaan penuh sesak oleh mereka yang hendak membeli baju baru dan keperluan hari Lebaran. Suasana kebathinan ummat seakan menunjukan bahwa Ketika datang lebaran adalah hari kebebasan. Dan harus di sikapi dengan pesta pora kemenangan. Seolah terbebas dari suasana membelenggu selama 30 hari ,melaksanakan kewajiban ibadah puasa dan ibadah lainnya. Sejatinya Kemenangan sejati Idul Fitri adalah dirayakan dengan symbol kemenangan sejati nilai-nilai kemanusiaan.
Ibadah Puasa Ujian Iman Sesungguhnya
Perintah Ibadah puasa di Bulan Ramadhan secara khusus di tujukan kepada orang-orang yang beriman. Sebagaimana hal tersebut diperintahkan kepada orang-orang sebelum kita. Tujuannya adalah agar kita benar-benar menjadi manusia beriman dan bertaqwa. Orang beriman itu definisi sedehananya adalah dia yang Percaya. Percaya tanpa reserve kepada keberadaan Rabb Tuhannya Allah SWT. Allah sebagai awal keradaan dirinya, Allah sebagai tujuan akhirnya, Allah sebagai tempat meminta perlindungan dan pertolongan, Allah sebagai sandaran utamanya. Tidak yang lain.
Baca Juga:Ratusan Pedagang UMKM Jabodetabek Ikut Mudik Gratis Pupuk KujangKisah Pemudik Asal Tasik Dua Hari Arungi Mudik Bogor-Tasik Pakai Motor Rongsok
Orang beriman meyakini dan percaya, bahwa apapun yang melekat pada manusia ada batasnya. Usia ada batasnya, kecantikan dan kegantengan ada batasnya, kekayaan dan kekuasaan ada batasnya. Semua ada ujungnya, yaitu kematian. Dan saat kematian datang, rontoklah semua kemelekatan duniawi yang ada pada dirinya. Dia hanya menjadi seonggok bangkai yang dibungkus kaim kapan dan di kubur tanah. Semua penghargaan dan penghormatan manusia sirna seketika. Jabatan hilang, harta di tinggal, anak istri dan keluarga tercinta tak akan nada yang mau menemani. Waktu melipatnya dalam cerita sejarah.
Ibadah puasa sejatinya mengembalikan ruh dan spiritual seorang hamba kepada asalnya di tiupkan. Kemenangan sejatinya adalah kesadaran spiritualitas bahwa kita ini hanya butiran debu diantara semesta ciptaanNya. Taqwa sebagai buah yang didapat, membimbing kita untuk menghadapi kehidupan 11 bulan kedepan dengan pemikiran untuk berjuang sekuat tenaga menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Itulah kunci kebahagiaan dan keselamatan hidup. Di dunia dan akherat.
