Dalam kegiatan itu, rombongan sekolah menyalurkan bantuan berupa perlengkapan mandi, alat kebersihan, sembako seperti beras dan mi instan, serta bantuan uang tunai untuk membantu operasional panti selama Ramadan.
Namun yang lebih menarik perhatian justru komitmen pendidikan yang disampaikan pihak sekolah. SD IT Idrisiyyah membuka peluang beasiswa bagi anak-anak panti yang ingin bersekolah di tingkat dasar.
Saat ini, terdapat dua SD IT Idrisiyyah yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya, yakni di Kecamatan Tamansari dan Purbaratu.
Baca Juga:Promotor Konser Jawab Masukan MUI: Tagline “Melepas Penat” Dinilai Tak Salah, Walaupun Kini BerubahGunung Jati Group Banjir Doa, 500 Warga Kota Tasikmalaya Buka Puasa Bersama
“Jika ada anak dari panti yang ingin melanjutkan sekolah dasar, kami siap memberikan beasiswa. Kami juga sedang menyiapkan program beasiswa khusus untuk anak-anak panti asuhan,” jelas Andri.
Program tersebut rencananya akan dijalankan melalui koordinasi dengan pengelola panti agar kebutuhan pendidikan anak-anak dapat difasilitasi dengan baik.
Pemilik Yayasan Mutiara Titipan Illahi (Yamuti) Tasikmalaya, Irma Arliyanti, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi anak-anak yang tinggal di panti.
“Program beasiswa ini sangat baik untuk kami. Kami bersyukur dan sangat mengapresiasi. Mudah-mudahan anak-anak juga bisa merespons dengan antusias,” ujarnya.
Irma menjelaskan sebagian besar anak yang tinggal di Yamuti berasal dari keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi maupun sosial sehingga tidak mampu merawat anak secara langsung.
“Banyak orang tua sebenarnya sangat menyayangi anak-anaknya. Tapi kondisi mental, fisik, sosial, dan ekonomi mereka tidak memungkinkan untuk merawat. Karena itu anak-anak dititipkan ke panti,” katanya.
Yamuti sendiri menerima anak-anak tanpa syarat biaya. Bahkan, dalam beberapa kasus, anak datang tanpa identitas lengkap.
Baca Juga:Sembako Murah di Mapolres Kota Tasikmalaya Jaga Stabilitas Harga Bahan PokokHET LPG di Priangan Timur Tak Naik 12 Tahun, Hiswana Migas Sindir Janji Kepala Daerah
Panti tersebut berusaha merawat mereka dengan pendekatan kemanusiaan, sambil membuka kemungkinan suatu saat anak-anak dapat kembali kepada keluarganya.
Saat ini sebagian besar penghuni Yamuti berada pada usia sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Beberapa lainnya masih balita yang baru dititipkan keluarganya karena berbagai keterbatasan.
Di tengah berbagai cerita hidup itu, satu hal yang tampak jelas: bagi anak-anak panti, kesempatan sekolah bukan sekadar rutinitas belajar.
Ia adalah jalan pulang menuju masa depan yang lebih layak. Dan terkadang, jalan itu dimulai dari sebuah beasiswa kecil yang datang di bulan Ramadan. (ayu sabrina barokah)
