JANTUR! Menyingkap Legenda Dadaha Lewat Pertunjukan Teater Malam Ini

Pertunjukan teater, jantur, universitas siliwangi,
Poster pertunjukan JANTUR yang akan berlangsung malam ini di Kampus Universitas Siliwangi, Sabtu (14/3/2026)
0 Komentar

Saldaña mengaitkan etnodrama dengan berbagai praktik teater yang berorientasi pada perubahan sosial seperti theatre of the oppressed, teater untuk keadilan sosial, maupun sosiodrama. Dalam tradisi tersebut, teks dan pertunjukan tidak semata-mata diciptakan dari imajinasi artistik, tetapi dari narasi-narasi kehidupan yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi partisipatif, catatan lapangan, jurnal reflektif, hingga berbagai artefak budaya. Hasilnya adalah karya seni yang berakar pada realitas sosial yang konkret.

Dalam konteks itulah saya melihat Jantur. Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan pengalaman artistik, tetapi juga advokasi kultural bagi masyarakat urban yang kerap tersingkir oleh agenda tata kota dan pembangunan yang eksploitatif. Mereka sering kali diposisikan seolah tidak memiliki saham dalam kemakmuran kota yang justru mereka hidupi setiap hari. Jantur menghadirkan suara mereka, suara yang selama ini berada di pinggiran wacana pembangunan.

Saya juga melihat satu hal yang menarik dari pendekatan pementasan ini. Para aktor Jantur tidak memposisikan penonton sebagai pihak yang jauh atau asing dari persoalan yang dipentaskan. Justru sebaliknya, mereka membangun relasi dialogis dan komunikatif, bahkan mengundang partisipasi audiens. Dalam perspektif etnoteater, ini adalah strategi yang sangat penting, karena persoalan yang diangkat bukanlah semata persoalan para aktor, melainkan persoalan bersama sebagai masyarakat.

Baca Juga:Kecelakaan Laut Jadi Perhatian Khusus, Persiapkan Keamanan Objek Wisata di Pengandaran Menjelang Lebur LebaranSaat Wali Kota Tasikmalaya Bergamis Lewat di Depan Teras!

Karena itu, pada titik tertentu saya merasa bahwa dalam Jantur batas antara aktor dan penonton menjadi cair. Kita semua yang hadir di ruang pertunjukan itu seolah berada dalam satu ruang liminal ruang di antara dua dunia: dunia kekuasaan yang menentukan arah zaman, dan dunia kenestapaan masyarakat yang kerap terpinggirkan oleh arus pembangunan. Dalam ruang liminal itu, semua yang hadir bukan lagi sekadar penonton, tetapi juga aktor sosial yang ikut merasakan, memikirkan, dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap realitas yang sedang dipentaskan.”

Teater Tanpa Penonton

Dalam konsep dramaturginya, Bode juga menolak memposisikan penonton sebagai pihak luar. Para aktor “Jantur” justru didorong untuk bersikap dialogis, komunikatif, bahkan mengajak audiens terlibat langsung. Masalah yang diangkat dalam “Jantur” tentang pembangunan, marginalisasi masyarakat urban, dan krisis ekologis, bukanlah persoalan para aktor semata. Ia adalah persoalan bersama. Karena itu, dalam ruang pertunjukan “Jantur”, tidak ada penonton dalam arti konvensional. Semua yang hadir menjadi bagian dari peristiwa teater. Mereka berada dalam ruang liminal: di antara zona kekuasaan yang mengatasnamakan pembangunan dan zona kenestapaan masyarakat yang tersingkir oleh agenda tata kota.

0 Komentar