Masalah Sampah di Kota Tasikmalaya Masih Jadi Keluhan, Aktivis Sindir Klaim Penurunan Aduan Warga

masalah sampah di Kota Tasikmalaya masih dikeluhkan warga
Sampah menumpuk di tepian Jalan Padasuka, Lengkongsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Salah satunya terlihat di wilayah Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu.

Seorang warga setempat, Fajar, bersama pemuda dan tokoh masyarakat mencoba mengelola sampah secara mandiri di lingkungannya.

Mereka mengembangkan sistem pengolahan sederhana untuk menekan volume sampah yang harus dikirim ke TPA.

“Kalau semuanya bergantung pada angkut, kadang sampah menumpuk dulu di jalan. Makanya kami coba kurangi dari sumbernya,” kata Fajar.

Baca Juga:THS Terwujud di Kota Tasikmalaya: PNS Terima 50 Persen TPP, Cairnya Senin Bareng THR Guru dan PPPKSafari Ramadan di Kota Tasikmalaya Ajang “Belanja Aspirasi”, Viman-Diky Sambangi Masjid dan Ponpes

Langkah yang dilakukan masih sederhana. Sampah rumah tangga dipilah terlebih dahulu.

Sampah organik diolah atau dibiarkan terurai, sementara sebagian sampah yang tidak bisa dimanfaatkan kembali dibakar secara terkendali.

Menurut Fajar, cara tersebut bukan solusi permanen, tetapi setidaknya bisa membantu menekan jumlah sampah harian yang harus dibawa ke TPA Ciangir.

Ia juga menyadari bahwa pengelolaan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah.

Jika seluruh sampah rumah tangga terus dikirim ke tempat pembuangan akhir tanpa pengurangan dari sumbernya, kapasitas TPA akan semakin terbebani.

“Kalau bisa dikurangi dari rumah, ya harus dicoba. Jangan semuanya dibuang ke TPA,” ujarnya.

Kondisi di lapangan juga diakui relawan yang membantu pengelolaan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bantar.

Baca Juga:Toko Kasur di Padayungan Kota Tasikmalaya Kebakaran, Petugas Damkar Dobrak Pintu Besi untuk Jinakkan ApiJukir Nakal di Kota Tasikmalaya Disemprit UPTD Parkir, Setoran Tak Sesuai Target Siap-siap Diputus Kerja

Mereka menyebut persoalan klasik masih sering terjadi, terutama keterlambatan pengangkutan sampah menuju TPA Ciangir.

Ketika ritase pengangkutan terlambat atau armada mengalami gangguan, sampah biasanya menumpuk lebih lama di TPS maupun di sejumlah titik pembuangan sementara di pinggir jalan.

“Keluhan paling sering itu sampah lama diangkut. Kalau sudah penuh, akhirnya meluber ke jalan,” tutur salah seorang relawan.

Akibatnya, pemandangan tumpukan sampah masih kerap terlihat di beberapa ruas jalan di Kota Tasikmalaya.

Plastik, sisa makanan, hingga kardus bekas tak jarang menunggu berhari-hari sebelum akhirnya diangkut truk pengangkut.

Di sisi lain, laporan resmi pemerintah daerah mencatat Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Tasikmalaya mengalami peningkatan pada periode 2024 hingga 2025.

Salah satu komponen yang menyumbang kenaikan indeks tersebut berasal dari sektor pengelolaan sampah.

Namun di tingkat masyarakat, persoalan teknis sehari-hari masih terasa.

0 Komentar