“Kalau akses pembiayaan ini lebih mudah dijangkau, pelaku usaha kecil tentu bisa meningkatkan skala usahanya. Dampaknya langsung terasa pada ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Rudi (39), pelaku usaha kuliner rumahan di Kecamatan Tawang.
Ia mengaku pernah mencoba mengajukan KUR untuk menambah modal usaha, namun prosesnya tidak berjalan semulus harapan.
Baca Juga:Tasik Speed Run: ketika Jalan Dokar Kota Tasikmalaya Disulap Jadi Arena Olahraga Dadakan di Malam RamadanRaffi Ahmad dan Amir Mahpud Bedah Masa Depan Anak Muda!
“Saya sempat mencoba mengajukan KUR ke bank, tapi ada beberapa syarat yang belum bisa saya penuhi. Akhirnya belum jadi mengajukan lagi,” kata Rudi.
Menurutnya, tambahan modal sangat dibutuhkan untuk mengembangkan usaha kecil yang ia jalankan, mulai dari menambah peralatan hingga meningkatkan kapasitas produksi.
“Kalau ada tambahan modal tentu sangat membantu. Usaha kecil seperti kami biasanya berkembangnya pelan karena keterbatasan modal,” ujarnya.
Secara nasional, program KUR menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk memperluas akses pembiayaan sektor produktif.
Penyalurannya dilakukan melalui sejumlah bank milik negara dengan skema bunga yang lebih ringan dibanding kredit komersial.
Namun Kepler menilai besarnya alokasi dana yang disiapkan pemerintah harus benar-benar terasa hingga ke tingkat daerah, termasuk di Kota Tasikmalaya.
Ia berharap mekanisme penyaluran KUR dapat terus diperbaiki agar tidak sekadar menjadi program yang ramai di laporan, tetapi sepi di kantong pelaku usaha.
Baca Juga:Dikritik MUI, Tajuk Konser di Eks Terminal Cilembang Mendadak Berubah Jadi “Tasikmalaya Bersilaturahmi”Wujudkan Literasi Keuangan Syariah, OJK Tasikmalaya Gandeng Penyuluh Agama
“Harus ada upaya agar pelaku usaha kecil tidak kesulitan mendapatkan akses pembiayaan. Jangan sampai programnya ada, tapi masyarakat yang membutuhkan justru tidak bisa memanfaatkannya,” pungkasnya. (ayu sabrina barokah)
