TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Saya tidak merencanakannya. Tidak ada janji. Tidak ada agenda. Bahkan tidak ada pesan singkat sebelumnya.
Semalam saya hanya ingin ngopi setelah tarawih. Seperti biasa, di sebuah kafe kecil di persimpangan Jalan Tarumanegara dan Jalan Dewi Sartika.
Tempat itu lebih dikenal sebagai markas anak muda. Tempat orang berkeluh kesah. Tempat diskusi panjang tentang hidup. Tentang cinta. Tentang pekerjaan yang belum juga datang.
Baca Juga:THR Pegawai Pemkot Tasikmalaya Perlu Solusi Konkret Agar Tak Jadi THSKonser Pasca Lebaran, Wali Kota Tasikmalaya Buka Suara
Kadang juga tentang masa depan kota ini. Kopi di situ punya reputasi unik, sederhana, tapi menenangkan hati.
Belum lama saya duduk. Sebuah motor tua berhenti di depan kafe. Suaranya khas. Tidak bising, tapi berkarakter. Motor yang sudah seperti identitas pemiliknya.
Turunlah seorang pria dengan kemeja lengan pendek dan rompi hitam. Gayanya santai. Saya sempat mengerutkan dahi. Rasanya tidak asing.
Benar saja. Dia adalah Agus Wahyudin. Politisi kawakan Kota Tasikmalaya. Mantan Ketua sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya periode 2019–2024. Kader tulen Partai Persatuan Pembangunan. Kini menjabat Wakil Ketua DPW PPP Jawa Barat sekaligus Plt DPC PPP Kota Tasikmalaya.
Sudah lama saya tidak bertemu dengannya. Terakhir kami berdiskusi ketika ia dipercaya menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Nurhayati – Muslim di Pilkada 2024.
Setelah itu hampir setahun kami tidak saling menyapa. Kesibukan masing-masing. Agus masih seperti dulu. Cool. Humble. Cara bicaranya tetap perlente. Tidak banyak retorika kosong. Kalau bicara, langsung substansi.
Ia dikenal sebagai “kaum sarungan”. Lahir dari keluarga petani. Tumbuh dengan pendidikan agama. Lalu meniti karier politik dari bawah. Benar-benar dari bawah. Pengurus ranting. Naik ke cabang. Lalu wilayah.
Baca Juga:Marak Calo Uang Baru di Medsos, Polisi Ingatkan Warga Kota Tasikmalaya Tetap Waspada Pemkot Tasikmalaya Waspadai Inflasi Jelang Lebaran Idul Fitri
Di partai berlambang Kakbah itu, ia termasuk kader yang mengalami semua jenjang. Kami pun ngobrol. Awalnya ringan. Lalu pelan-pelan berubah serius. Maklum. Kalau ngobrol dengan politisi, ujungnya hampir pasti soal pemerintahan.
Agus mengatakan satu hal yang menarik. “Berbicara politik itu bukan soal siapa menang atau kalah,” katanya sambil menyeruput kopi. “Yang lebih penting adalah bagaimana daerah ini dikelola.”
