“Kita punya harapan dan target agar Lanud jadi bandara sipil,” ungkap Budi kala itu.
Saat itu, keberadaan bandara dinilai mendesak. Akses transportasi dari Kota Tasikmalaya menuju pusat ibu kota masih mengandalkan jalur darat yang dinilai kurang efisien.
Selain jarak tempuh yang lama, kondisi jalan yang berkelok dan kemacetan di hari-hari tertentu dianggap menjadi hambatan bagi percepatan ekonomi. Investasi di Kota Tasikmalaya juga dinilai masih rendah sehingga perlu akselerasi. Bandara komersial dipandang sebagai salah satu solusi.
Baca Juga:MUI Kota Tasikmalaya Kritik Sistem Tukar Uang Lebaran, Begini KatanyaSerap Aspirasi Warga Pagerageung, Budi Mahmud Saputra Siap Kawal Pembangunan Desa Cipacing
“TNI sudah menyerahkan (aset), Kementerian Perhubungan pada prinsipnya sudah oke,” lanjutnya.
Selain itu, pembangunan bandara komersial di Tasikmalaya juga didorong oleh rencana pengembangan jalur udara selatan Jawa serta upaya meningkatkan konektivitas dan ekonomi wilayah Priangan Timur.
Setahun kemudian, momen bersejarah terjadi. Pada Sabtu, 10 Juni 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan penerbangan komersial di Bandara Wiriadinata. Statusnya pun berubah dari pangkalan TNI AU menjadi bandara umum.
Perubahan status itu terbilang sangat cepat. Awalnya Presiden Jokowi meminta proses perubahan status pangkalan menjadi bandara umum selesai dalam waktu dua minggu. Namun prosesnya hanya memakan waktu dua hari setelah kunjungan presiden ke Tasikmalaya.
Penerbangan komersial perdana Wings Air dengan pesawat ATR 72-600 rute Tasikmalaya–Jakarta (Halim Perdanakusuma) dimulai sekitar awal Juli 2017. Pada 2019, landasan pacu bandara diperpanjang menjadi 1.600 meter oleh Kementerian Perhubungan.
Penerbangan komersial berlangsung hingga 2020 sebelum akhirnya terhenti akibat pandemi Covid-19.
Pada 2023, penerbangan dari Bandara Wiriadinata sempat kembali dibuka. Saat itu, Penjabat Wali Kota Tasikmalaya Cheka Virgowansyah bersama Komandan Lanud Wiriadinata Letkol Pnb Adi Putra Buana menjadi motor penggeraknya.
Sekitar Oktober 2023, pesawat ATR 72-600 milik maskapai Citilink mendarat di Tasikmalaya. Namun penerbangan dilakukan dengan skema charter oleh pihak swasta. Rute yang dibuka adalah Tasikmalaya (TSY) – Halim Perdanakusuma (HLM) dengan jadwal dua kali seminggu, yakni Sabtu dan Senin.
Baca Juga:Gelar Rapat Konsolidasi, PDIP Kota Tasikmalaya Minta Kader Makin SolidDiduga Putus Cinta, Pria di Kota Tasikmalaya Nekat Minum Racun Tikus Campur Kopi
Namun dalam praktiknya penerbangan tersebut hanya berjalan sekitar tiga kali. Pihak swasta yang menjalankan charter, CV Adirama Mitra Sehati (AMS), disebut mengalami kerugian dan tidak mampu melanjutkan operasional.
