RADARTASIK.ID – Derby della Madonnina ke-246 berakhir dengan kemenangan tipis 1-0 untuk AC Milan.
Gol tunggal Pervis Estupiñán menjadi penentu dalam laga yang kembali memanaskan persaingan perebutan gelar Serie A musim ini.
Kemenangan tersebut membuat Milan memangkas jarak dengan Inter Milan menjadi tujuh poin.
Baca Juga:Media Italia Sebut Handball Ricci Tak Layak Dijatuhi Hukuman Penalti, Chivu: Saya Tak Punya KomentarPervis Estupinan: Senjata Rahasia Allegri Kalahkan Inter Milan
Meski selisih itu masih cukup besar, peluang untuk mengejar ketertinggalan tetap terbuka.
Dengan 10 pertandingan tersisa hingga akhir musim, sejarah Serie A pernah mencatat beberapa comeback dramatis, termasuk yang dialami Milan pada musim 1998–1999.
Namun sebelum melihat kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, derby ini memberikan beberapa pelajaran penting, terutama bagi kedua tim yang terlibat.
Salah satu hal paling menonjol dari pertandingan ini adalah kesulitan Inter ketika kehilangan sejumlah pemain kunci.
Absennya Lautaro Martinez, Marcus Thuram, dan Hakan Calhanoglu jelas memberi dampak besar pada performa tim asuhan Cristian Chivu.
Tanpa tiga pemain tersebut, Inter tampak kehilangan identitas permainan.
Pelatih asal Rumania itu memilih untuk mempertahankan pendekatan taktik yang sama seperti biasanya, meskipun para pemain yang menggantikan memiliki karakteristik berbeda.
Keputusan itu justru membuat permainan Nerazzurri terlihat kurang efektif.
Pio Esposito yang ditugaskan menggantikan Lautaro terlihat kesulitan sepanjang pertandingan.
Ia sering berkeliaran tanpa mendapatkan suplai bola yang memadai untuk menciptakan ancaman nyata di depan gawang Milan.
Baca Juga:Sergio Ramos Tonton Derby Milan, Modric: Kalau Kapten Datang, Kami Harus MenangBergomi: Handball Samuele Ricci Harusnya Penalti
Sementara itu, Bonny yang menggantikan peran Thuram tidak memiliki kreativitas maupun kekuatan fisik yang sama.
Ia kerap terjebak dalam rapatnya pertahanan Rossoneri tanpa mampu memberikan kontribusi signifikan.
Masalah lain terlihat di lini tengah. Piotr Zielinski, yang tampil jauh dari performa terbaiknya, hampir tidak pernah mencoba mengalirkan bola berbahaya kepada para penyerang Inter.
Selain itu, keputusan memainkan Luis Henrique juga menjadi sorotan. Pemain tersebut sebenarnya cukup efektif ketika Inter membutuhkan dorongan ofensif penuh.
Namun dalam pertandingan dengan intensitas tinggi seperti derby, performanya justru tidak stabil.
Contoh yang paling mencolok terjadi pada proses gol Milan. Sebuah pergerakan yang tidak sempurna dari Henrique membuka ruang bagi Estupiñán untuk mencetak gol kemenangan.
