Spalletti disebut tidak percaya bahwa Icardi benar-benar cedera dan menganggap sang pemain berpura-pura untuk menghindari pertandingan tersebut.
“Pada saat itu Lautaro tidak bermain, sementara Icardi adalah kapten Inter dan sudah mencetak banyak gol untuk tim,” jelas Nainggolan.
“Tetapi Spalletti tidak menerima fakta bahwa, menurutnya, Icardi berpura-pura cedera agar tidak bermain melawan Frankfurt. Dari situlah semuanya mulai berubah,” tambahnya.
Baca Juga:Allegri Senjata Rahasia AC Milan untuk Menyalip Inter dan Memenangkan ScudettoAndrea Ranocchia: Scudetto dalam Genggaman Inter Jika Kalahkan AC Milan, Jika Tidak…
Ia menilai insiden tersebut menjadi alasan utama mengapa hubungan antara Icardi dan klub kemudian tidak bisa diperbaiki lagi.
“Saya pikir itulah alasan sebenarnya mengapa hubungan mereka akhirnya rusak,” ungkap Nainggolan.
Nainggolan dan Icardi sempat bermain bersama dalam 25 pertandingan sepanjang musim 2018/2019.
Keduanya menghabiskan hampir 1.500 menit di lapangan dalam satu musim bersama Inter di bawah arahan Spalletti.
Musim tersebut sebenarnya cukup positif bagi Inter. Nerazzurri berhasil finis di posisi keempat Serie A dan kembali mengamankan tiket ke Liga Champions.
Namun di balik pencapaian itu, konflik internal terkait Icardi terus membesar. Striker asal Argentina itu bahkan sempat dicopot dari jabatan kapten sebelum akhirnya tersisih dari skuad utama.
Tidak lama kemudian, Inter memutuskan berpisah dengan sang penyerang yang sebelumnya menjadi mesin gol tim.
Icardi akhirnya meninggalkan Giuseppe Meazza dan melanjutkan kariernya di klub lain.
Baca Juga:Syarat Allegri Gabung Madrid: Minta Florentino Perez Beli Dua Bintang AC MilanStrahinja Pavlovic: Inter Bukan Favorit Pemenang di Derby Della Madonnina
Pengakuan Nainggolan ini membuka kembali salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah modern Inter, ketika seorang kapten tim harus mengakhiri kebersamaannya dengan cara yang tidak mulus.
