Ventilator RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya yang “Bangun Tidur”

ventilator RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya akhirnya berfungsi
Kadinkes Kota Tasikmalaya, dr. Asep Hendra Hendriana saat diwawancara perkembangan terbaru ventilator RSUD Dewi Sartika di depan Galih Pawestri, Rabu (25/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Akhirnya ia hidup. Bukan manusia. Bukan juga gedung. Melainkan ventilator.

Setelah lama berstatus rumah sakit “siap gedung tapi belum siap napas”, RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya dikabarkan segera bisa melayani pasien BPJS Kesehatan.

Bukan karena bangunan baru. Bukan pula karena dokter mendadak turun dari langit. Kuncinya cuma satu. Ventilator yang selama ini seperti tertidur panjang, kini bangun.

Baca Juga:Kota Tasikmalaya Ngos-Ngosan, APBD Susut: Air Putih Resmi Naik Kelas, Gorengan Turun Kasta!PJU Padam Bertahun-tahun di Kawalu Kota Tasikmalaya, Warga Bertanya: Lagi Hemat Energi atau Lupa Dipelihara?

Ventilator itu sebenarnya tidak pernah pergi. Ia ada. Sejak awal. Namun diam. Rusak. Tak bersuara.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr. Asep Hendra Hendriana, akhirnya membuka cerita.

“Ventilator itu sebenarnya ada, bukan tidak ada. Tapi rusak karena lama tidak dipakai,” katanya, Rabu (25/2/2026).

Masalahnya ternyata klasik. Komponen mati. Sparepart tak tersedia. Barang sudah discontinue. Seperti mencari onderdil mobil tua. Tokonya sudah tutup. Penjualnya entah ke mana.

Dua tahun rumah sakit berdiri. Dua tahun pula ventilator itu diam. Menunggu disentuh. Menunggu dibangunkan. Kini satu unit berhasil diperbaiki. Dipasang. Dikalibrasi.

Dinyatakan hidup “Alhamdulillah sudah hidup, sudah dikalibrasi dan berhasil,” ujar Asep.

Hidupnya ventilator itu membawa harapan baru. Tahap berikutnya: kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Baca Juga:Gunung Jati Group Santuni 600 Anak Yatim di Kota Tasikmalaya, Ramadan Jadi Tabungan AkhiratSejumlah Dinas Absen Musrenbang Sektoral Kota Tasikmalaya, Diky Candra: Bukan Marah, Tapi Malu Sendiri

Namun jangan buru-buru bersorak. Idealnya, rumah sakit tipe seperti RSUD Dewi Sartika membutuhkan empat ventilator.

Faktanya? Baru satu yang benar-benar bisa dipakai. Satu lagi sulit diperbaiki karena sparepart-nya tak ditemukan.

Sisanya masih dalam proses—antara diperbaiki atau diganti dengan yang baru.

“Selain perbaikan, kita juga rencanakan penambahan alat baru karena memang jumlahnya kurang,” kata Asep.

Belum selesai di situ. Ventilator bukan satu-satunya syarat. BPJS juga menunggu dokter spesialis.

Dari empat yang dibutuhkan, tiga sudah ada. Satu lagi dijadwalkan mulai bertugas 1 Maret 2026.

Jika semua syarat teknis, legalitas, dan dokumen rampung, barulah kerja sama bisa diteken. Namun Asep memilih menahan diri. Belajar dari pengalaman.

“Kemarin kita terlalu excited, tapi meleset. Sekarang lebih hati-hati,” katanya.

Target bulan pun tak disebut. Yang penting, katanya, secepatnya.

0 Komentar