Ini juga bukan kali pertama Madrid bersinggungan dengan isu sensitif terkait China.
Pada 2024, klub harus mengambil sikap tegas setelah seorang penggemar terekam menyanyikan lagu berisi hinaan anti-Tiongkok menjelang final Liga Champions melawan Borussia Dortmund.
Kedutaan Besar China di Spanyol bahkan sempat melayangkan protes resmi.
Saat itu, Real Madrid menegaskan bahwa tindakan individu tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai klub.
Baca Juga:Joan Laporta: Barcelona Tolak Tawaran Rp4,25 Triliun dari PSG untuk Lamine YamalMantan Pelatih AC Milan: Penghargaan Perdamaian untuk Trump Aib Bagi Sepakbola
Di sisi lain, Los Blancos juga dikenal vokal dalam mendukung Vinicius Junior, yang kerap menjadi korban diskriminasi rasial di berbagai stadion.
Karena itu, setiap isu yang berkaitan dengan rasisme atau sensitivitas budaya menjadi perhatian serius bagi manajemen klub dan Presiden Florentino Pérez.
Bagi Huijsen, insiden ini menjadi pelajaran besar di awal kariernya bersama salah satu klub terbesar dunia.
Mengenakan seragam putih Real Madrid bukan hanya soal performa di lapangan, tetapi juga tanggung jawab dalam bersikap di ruang publik, termasuk media sosial.
Kini, waktu akan menentukan apakah permintaan maaf tersebut cukup untuk memulihkan kepercayaan para penggemar di China.
Yang jelas, di era digital, satu unggahan singkat bisa berdampak luas—bahkan melampaui batas lapangan hijau.
