Unboxing Perencanaan Ala Bapellitbangda Kota Tasikmalaya di Bulan Pengendalian Diri!

Konten bingkisan ramadan, bapelitbangda kota tasikmalaya
Tangkapan layar video konten bingkisan dari ASN Pemkot Tasikmalaya
0 Komentar

Yang menarik, tak satu pun yang benar-benar mempermasalahkan isi bingkisannya. Mau kue kering, minuman premium, atau makanan impor, itu urusan selera. Yang dipersoalkan adalah waktunya. Bulannya. Dan status yang melekat pada pemilik ruang kerja itu.

ASN, kata orang tua dulu, adalah pelayan masyarakat. Bukan selebgram. Tapi kini batasnya tipis. Kamera ponsel lebih cepat diangkat daripada empati. Rekam dulu, mikir belakangan.

Padahal, di luar gedung perencanaan itu, perencanaan hidup warga sedang ruwet. Tukang ojek online menghitung order yang makin sepi menjelang Lebaran. Pedagang kecil memutar otak agar modal tidak habis sebelum hari raya tiba. Buruh harian masih bertanya dalam hati: “Lebaran besok, kami makan apa?” ucapnya.

Baca Juga:Cegah Anak Jadi Korban Child Grooming, Mahasiswa KKN UNIK Cipasung Lakukan Edukasi Area PrivasiOperasional RSUD Dewi Sartika Bisa Jadi Pemborosan, Lebih Bermanfaat Dijadikan Rumah Dinas Wali Kota

Di sisi lain, pemerintah kota rajin menggelar rapat. Bicara sensitivitas sosial. Bicara etika ASN. Bicara imbauan agar aparatur sederhana. Semua bicara. Semua benar. Tapi satu video bisa meruntuhkan seribu kalimat imbauan.

Ironisnya, sang empunya akun mungkin tak berniat apa-apa. Bisa jadi hanya ikut arus. Ikut tren. Ikut lucu-lucuan. Tapi di ruang publik, niat sering kalah oleh tafsir. Dan tafsir rakyat jarang mau menunggu klarifikasi.

Kini bola panas sudah menggelinding. Tinggal menunggu: apakah akan berhenti di obrolan warga, atau masuk ke ruang-ruang resmi yang ber-AC dingin tapi penuh catatan.

Sebab bagi publik, Ramadan bukan soal seberapa banyak bingkisan yang diterima, tapi seberapa peka rasa yang dipelihara. Dan bagi ASN, kamera seharusnya merekam kerja, bukan sekadar rezeki.

Ramadan ini, rakyat tidak butuh tontonan perencanaan menu Lebaran yang mewah. Rakyat butuh perencanaan pembangunan yang nyata. Yang terasa. Yang bisa dibawa pulang ke dapur, bukan hanya ke galeri ponsel. (red)

0 Komentar