Unboxing Perencanaan Ala Bapellitbangda Kota Tasikmalaya di Bulan Pengendalian Diri!

Konten bingkisan ramadan, bapelitbangda kota tasikmalaya
Tangkapan layar video konten bingkisan dari ASN Pemkot Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Bulan Ramadan memang bulan berbagi. Dari dulu begitu. Tapi ada satu catatan kecil yang sering terlupa: berbagi itu diam-diam lebih nikmat daripada berbagi sambil direkam kamera.

Kota Tasikmalaya kembali gaduh—bukan karena banjir, bukan karena jalan berlubang. Gaduh karena sebuah video singkat. Isinya sederhana: tumpukan bingkisan makanan dan minuman kemasan. Disusun rapi. Menggunung. Diparodikan. Lokasinya diduga di salah satu ruang kerja ASN di Bappelitbangda Kota Tasikmalaya. Di jam kerja pula.

Video itu beredar. Lalu berhenti. Tapi bisiknya jalan terus. Di waktu yang hampir bersamaan, emak-emak Pasar Cikurubuk sedang menghitung ulang uang di dompet.

Baca Juga:Cegah Anak Jadi Korban Child Grooming, Mahasiswa KKN UNIK Cipasung Lakukan Edukasi Area PrivasiOperasional RSUD Dewi Sartika Bisa Jadi Pemborosan, Lebih Bermanfaat Dijadikan Rumah Dinas Wali Kota

Harga cabai naik-turun seperti roller coaster. Minyak goreng masih suka bikin deg-degan. Gula kadang manis di lidah, pahit di harga. Sementara di layar ponsel, tampil pemandangan lain: paket-paket bingkisan yang terlihat “sudah selesai hidupnya”.

Di situlah masalahnya. Flexing—pamer—sudah jadi penyakit kronis media sosial. Semua orang kena. Dari seleb sampai warga biasa. Tapi ketika yang memamerkan adalah aparatur sipil negara, rasanya beda. Ada rasa seret di tenggorokan. Seperti menelan biji kedondong. Tidak salah, tapi mengganjal.

Publik lalu bertanya. Pelan-pelan. Sambil nyengir. Itu hasil keringat sendiri? Atau tanda kasih dari relasi yang berharap perencanaan diperlancar? Wallahu a’lam.

Yang jelas, di mata warga, tumpukan makanan itu bukan lagi sekadar hampers. Ia berubah jadi simbol. Simbol kontras. Antara yang sudah tenang memilih menu Lebaran, dengan yang masih bingung cari uang buat beli baju bedug anaknya.

Padahal, pemerintah kota Tasikmalaya sedang sibuk bicara efisiensi anggaran. Angka. Grafik. Target. PowerPoint. Lalu datanglah video itu—pendek, tapi efeknya panjang. Ironi yang tidak lucu.

Video hampers itu sudah pindah rumah. Dari Instagram ke WhatsApp. Dari WhatsApp ke obrolan publik. Begitu ceoat menyebar. Di situ, setiap orang mendadak jadi analis sosial.

“Eta di kantor mana?”“Kayanya Bappelitbangda…”“Wah, perencanaan na bagus. Menu Lebaran na.” Guyonan. Tapi pedas.

0 Komentar