Presiden Prabowo tahu, risiko politiknya besar. Program makan gratis mudah diserang. Mudah disederhanakan jadi “bagi-bagi”. Mudah dicurigai sebagai populisme. Tapi justru di situlah letak keberaniannya.
IKN dulu juga dipertanyakan. Bedanya, IKN adalah janji masa depan yang jauh. MBG adalah kebutuhan hari ini. Satu dibangun perlahan di peta, yang lain langsung terasa di perut.
Kritik terhadap MBG seharusnya berhenti pada satu garis: bagaimana membuatnya tepat, bukan bagaimana menggugurkannya. Karena kalau semua kebijakan yang berangkat dari empati selalu ditolak hanya karena berisiko,
Baca Juga:Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?Mahasiswa UMB Manfaatkan Teknologi AIoT untuk Tekan Kematian Ikan Gurame di Wargakerta Tasikmalaya
maka negara akan berubah jadi mesin hitung raksasa yang lupa untuk peduli.
Pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya diukur dari neraca, tapi dari keputusan-keputusan yang diambil saat angka dan rasa tidak sepakat.
MBG mungkin bukan kebijakan paling efisien di atas kertas. Tapi bisa jadi, ia adalah kebijakan paling jujur yang pernah dicoba negara. Dan barangkali, di tengah kecurigaan yang terlanjur mapan, kejujuran itulah yang terasa paling mengganggu. (kim)
