Ketua Panitia kegiatan, Cece Rosiman, SAg, menyampaikan bahwa saresehan dirancang sebagai ruang dialog yang cair dan setara bagi seluruh peserta.
“Kami ingin forum ini terasa sebagai ruang kekeluargaan. Kerukunan hanya bisa tumbuh jika semua pihak merasa dihargai dan didengar,” ujarnya.
Oleh karena itu, kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya KH Dr Fadlil Yani Ainussyamsi yang juga Ketua ICMI Kabupaten Ciamis, Pimpinan Pesantren Darussalam, serta pengurus MUI Pusat dan MUI Kabupaten Ciamis. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Ciamis turut menjadi narasumber dengan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial serta mencegah potensi konflik berbasis identitas.
Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona
Diskusi dipandu Jhon Husein dari Duta Harmoni Kabupaten Ciamis dan berlangsung dinamis. Sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi turut menyampaikan pandangan, di antaranya PC NU, PD Muhammadiyah, PERSIS, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Syarikat Islam, FPK, PPI, LDII, FKDM, FPI, serta tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB.
Hadir pula pimpinan MAKIN/Khonghucu, Gereja St Johanes, Gereja Pantekosta, Gereja Kristen Indonesia, serta Ketua GOW Ciamis Hj Talbiyah, MM, yang menekankan pentingnya peran keluarga dan perempuan dalam menanamkan nilai toleransi sejak dini.
Dalam pertemuan tersebut, KH Dr Fadlil Yani Ainussyamsi menegaskan bahwa kerukunan harus ditempatkan sebagai etika publik yang bersumber dari nilai-nilai agama.
“Agama hadir untuk menjaga martabat manusia. Jika agama dipahami secara sempit, ia bisa menjadi sumber ketegangan. Tetapi ketika agama dipahami sebagai etika publik, agama justru menjadi perekat sosial,” katanya. (riz)
