Suaranya tidak tinggi, tetapi tegas. Seolah ia sedang menggambar masa depan yang ia percaya penuh kemungkinan.
Di ruang itu, pengunjung terus berdatangan.
Anak-anak menyentuh permukaan bambu, orang dewasa berfoto di antara lorong yang melengkung, dan pengrajin memperhatikan detail-detail konstruksi yang mungkin bisa mereka tiru.
Dari Tasikmalaya, dari Priangan, Ogi ingin dunia melihat.
Ia ingin bambu tidak hanya jadi ikon, tetapi industri—yang tumbuh, bertahan, dan membawa kesejahteraan.
Baca Juga:Wali Kota, PKL, dan Siang Hari yang Terlalu Terik di Jalan Pemuda Kota Tasikmalaya!Polemik Proyek Padel di Kota Tasikmalaya: Rekomendasi Stop Pengerjaan Sementara Diabaikan
“Masa depan bambu ada di sini,” ujarnya. “Dan masa depan itu harus kita sambut.” (ayu sabrina)
