Dalam seluruh instalasi itu, 1.200–1.500 batang bambu ikut bercerita—belum termasuk anyaman, tali kere, dan material lokal lain yang menjadi identitas Priangan.
Ketika Dunia Melihat ke Priangan
Dunia kini berubah. Di banyak negara, regulasi deforestasi makin ketat.
Industri mencari material baru yang kuat, tumbuh cepat, dan bisa diolah berulang. Dan jawabannya, kata Ogi, banyak dilirik orang: bambu.
“Di luar negeri, bambu sudah menggantikan kayu. Kalau diolah modern, kekuatannya bisa luar biasa,” tegasnya.
Baca Juga:Wali Kota, PKL, dan Siang Hari yang Terlalu Terik di Jalan Pemuda Kota Tasikmalaya!Polemik Proyek Padel di Kota Tasikmalaya: Rekomendasi Stop Pengerjaan Sementara Diabaikan
Karena itu, bagi Ogi, keberadaan Priangan—salah satu wilayah penghasil bambu terbesar di Indonesia bahkan dunia—adalah peluang yang tidak boleh dibiarkan tidur.
Ia menyebut deretan potensi yang mungkin belum banyak disadari masyarakat:
• lantai rumah.
• tiang bangunan.
• furniture estetis.
• jok mobil.
• tekstil.
• hingga produk makanan.
“Tasikmalaya harus siap. Priangan harus siap. Ini bisa mendorong kenaikan PDB regional,” katanya. Suaranya pelan, tapi yakin.
Cerita Para Pengrajin yang Tak Tercatat
Di balik bambu yang menjulang itu, ada tangan-tangan yang bekerja sejak lama: pengrajin.
Mereka adalah bagian penting rantai bambu, namun sering kali tercecer, tidak tercatat, tidak terhubung.
Ogi mengenal mereka dengan baik. Ia menggolongkan pengrajin bambu Priangan ke dalam tiga kelompok:
1. pengrajin yang menjual langsung.
2. pengrajin pemasok untuk pengepul.
3. pengrajin yang mengerjakan pesanan ekspor.
Yang terakhir jumlahnya paling sedikit, padahal pasar ekspor menawarkan peluang besar.
“Buyer luar negeri biasanya kasih desain. Pengrajin menyesuaikan. Itu bisa meningkatkan kapasitas mereka,” jelas Ogi.
Baca Juga:Polres dan Pemkot Tasik Beri Ruang Inklusif: Siswa Difabel Disambangi Kapolres, Sekda Lepas Konvoi Eks Selokan Diurug, Drainase Menjerit: PUTR Stop Sementara Proyek Padel di Kota Tasikmalaya
Ia menyebut peningkatan tidak hanya pada kualitas anyaman, tetapi juga kebersihan, presisi, dan estetika.
“Masalahnya, banyak pengrajin belum punya wadah. Belum tercatat. Jadi tidak tersambung ke pasar besar.”
Ketika Pameran Menjadi Titik Tolak, Bukan Puncak
Instalasi bambu raksasa itu berdiri megah, seolah ingin menyampaikan sesuatu.
Bagi Ogi, pesan itu sederhana tetapi penting: inilah permulaan.
“Kami ingin pameran ini jadi gerbang. Bukan puncak,” katanya.
