Budidaya Buah Premium Prospektif, Green House Melon Karangresik Panen 4 Ton Melon

PANEN
Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra saat memetik buah melon di Green House Melon Karangresik, Rabu (10/12/2025). (Fitriah Widayanti/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Potensi pasar buah premium menjadi peluang yang terus dimaksimalkan Green House Melon Karangresik. Kebun seluas 40 x 45 meter itu kini kembali memanen melon dengan nilai ekonomi tinggi.

Dalam satu kali panen, kebon tersebut mampu menghasilkan sekitar 4 ton melon dari 4.250 pohon yang ditanam, dengan potensi keuntungan mencapai Rp 140-150 juta.

Manajer Green House Melon Karangresik, Hilman Firmanudin menjelaskan, Green House Melon Karangresik menawarkan 10 jenis melon yang dibudidayakan, seperti Inthanon, Inthanon Putih, Yubari, Kirin, Safir, hingga Crown. Beragamnya varietas menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung maupun pecinta buah premium.

Baca Juga:Berkontribusi untuk Kemanusiaan, Plaza Asia Tasikmalaya Kumpulkan Sekitar 400 Kantong Darah Sepanjang 2025JNE Salurkan Lebih dari 500 Ton Bantuan, Peduli Korban Bencana di Sumatra

“Harganya mulai dari Rp 35.000 per kilo sampai ada yang Rp 250.000 per butir. Untuk melon jenis Crown, kalau di luar dijual Rp 3 juta, di sini cukup Rp 250.000 saja,” ujar Hilman.

Ia menjelaskan bahwa setiap varietas memiliki keunikan rasa dan tekstur. Ada yang bertekstur kriuk, jelly, lembut hingga juicy dengan tingkat kemanisan yang berbeda.

Menurutnya, hal tersebut menjadi alasan melon memiliki segmentasi pasar berjenjang dan eksklusif dibanding buah lain. Selain itu, masa tanam yang relatif singkat menjadi pertimbangannya memilih komoditas ini.

“Kalau buah-buahan lain itu panennya agak lama. Kalau melon maksimal tiga bulan sudah bisa panen. Ini mulai dari tanam sampai panen hanya 70 hari,” jelas mantan pegawai bank tersebut.

Dalam proses perawatannya, kebun ini telah menerapkan sistem Internet of Things (IoT) sebagai efisiensi penyiraman tanaman. “Kita instalasi IoT-nya, jadi nyiramnya otomatis,” ungkap Hilman.

Meski memiliki prospek besar, budidaya melon tetap memiliki tantangan, terutama saat musim hujan. Hilman menuturkan bahwa melon membutuhkan cahaya matahari yang cukup agar pertumbuhannya optimal.

Kondisi cuaca yang tidak stabil diantisipasi melalui penyesuaian unsur pupuk. “Kalau musim hujan sebetulnya kurang maksimal, tapi kita siasati pupuknya. Ada pupuk musim hujan dan ada pupuk musim panas. Unsurnya ada yang kita tambah dan kita kurangi,” katanya.

Baca Juga:Satu Dekade Sharp Greenerator: Konsisten Menumbuhkan Generasi Muda yang Peduli LingkunganSambut Malam Pergantian Tahun, Alhambra Hotel & Convention Tasikmalaya Suguhkan “Year End Gala Dinner 2025”

Ia menuturkan, saat ini pemasaran masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang dinilai belum tercukupi. Meskipun demikian, peluang menembus pasar internasional tetap menjadi harapan, salah satunya ke Singapura yang dipandang memiliki prospek menjanjikan.

0 Komentar