Ketika Tanah Karangjaya Digali Demi Emas, yang Tersisa Hanya Lubang dan Air Keruh

Tambang karangjaya ditutup
Kondisi lokasi pengolahan emas di Karangjaya yang ditutup polisi. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID— Di kaki bukit yang dulu hijau, kini tersisa lubang-lubang menganga sebesar rumah. Genangan air keruh berwarna keperakan memantulkan sinar matahari sore.

Di sinilah, di Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, ratusan miliar rupiah pernah digali dari perut bumi — tapi menyisakan luka yang dalam bagi alam dan warganya.

Selama bertahun-tahun, tambang emas di kawasan ini menjadi magnet bagi warga dari berbagai daerah.

Baca Juga:Viral Warga Pangandaran Sakit di Taiwan, Memelas Minta Dijemput ke Gubernur Jabar, Eh Ternyata BeginiRahasia Jabatan Abadi di Kota Tasikmalaya: Ketika Kursi Lebih Setia dari Kepala Daerah!

Tak sedikit yang meninggalkan sawah demi mengadu nasib di lubang tambang.

“Sekali dapat batu bagus, bisa dapat belasan juta,” kata Ujang (42), mantan penambang yang kini bekerja serabutan setelah lokasi tambang ditutup aparat.

Namun di balik kisah keberuntungan sesaat itu, ada harga mahal yang harus dibayar: rusaknya hutan, tercemarnya sungai, dan berubahnya pola hidup.

Data yang dihimpun Radar, menunjukkan aktivitas tambang emas di Karangjaya menghasilkan ratusan miliar rupiah per tahun dari penjualan logam mulia ke luar daerah.

Namun ironisnya, keuntungan itu tak pernah masuk ke kas daerah — karena sebagian besar aktivitas dilakukan tanpa izin resmi pertambangan (IUP).

Dari udara, kerusakan tampak jelas. Bukit-bukit yang dulu diselimuti pohon kini gundul. Lubang bekas galian tampak seperti luka terbuka di punggung bumi.

“Air sungai jadi keruh, sawah tidak subur lagi. Kalau hujan, lumpur dari tambang turun ke kampung,” ujar Siti (50), warga sekitar sambil menunjukkan parit yang kini dipenuhi pasir tambang.

Baca Juga:54 Orang Terluka dalam Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Sebagian Besar Pelajar2 Pipa PDAM Tirta Sukapura Tasikmalaya Putus Akibat Longsor, Pasokan Air ke Beberapa Wilayah Ditutup Sementara

Selain kerusakan fisik, ancaman lain datang dari dugaan penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida untuk memisahkan emas dari batuan.

Zat-zat itu diduga mengalir ke sungai, masuk ke tanah, dan meresap hingga ke sumur warga.

Warga sekitar pun menilai aktivitas tambang emas ini telah menyebabkan degradasi lingkungan serius.

“Bukan hanya soal hilangnya vegetasi, tapi juga risiko kontaminasi logam berat yang bisa berdampak puluhan tahun ke depan,” katanya.

Bagi sebagian warga , Karangjaya adalah ladang emas yang menjanjikan. Tapi bagi alam dan generasi berikutnya, ia menjadi warisan krisis ekologis.

0 Komentar