Lima Orang Ditetapkan Menjadi Jadi Tersangka

Pelaku Pemakaian Antigen Bekas Ditindak

Wiku Adisasmito Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19

JAKARTA – Aparat kepolisian diminta menindak tegas terhadap tersangka pelaku penggunaan antigen bekas saat tes COVID-19 di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.

”Satgas sangat mendukung upaya kepolisian menindak tegas orang-orang yang terlibat dengan kasus ini,” tegas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers virtual, Kamis (29/4/2021).

Dikatakannya kasus pemalsuan tes antigen sangat mem­pri­hatinkan. Dia pun mengecam aksi yang dilakukan para pelaku.

”Tindakan itu tak dapat ditolerir karena pelaku-nya sadar membahayakan nyawa orang lain,” kata dia tegas.

Satgas berharap temuan pemalsuan semacam itu merupakan temuan terakhir. Dia meminta penyedia alat tes antigen tidak bermain-main dengan nyawa manusia dan melakukan tes sesuai prosedur.

”Tindakannya mengancam keberlangsungan hidup orang banyak. Karenanya tindakan tegas harus diberikan,” tegasnya.

Kapolda Sumut, Irjen Panca Putra mengatakan pihaknya telah menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus penggunaan alat tes antigen bekas di Bandara Kualanamu.
”Mereka dijerat melanggar UU Kesehatan dan UU Perlindungan Konsumen,” katanya.

Kelima tersangka itu yaitu, PM, Business Manager Laboratorium Kimia Farma. PM diduga memiliki peran sebagai penanggungjawab laboratorium dan yang menyuruh melakukan penggunaan Cutton Buds Swab Antigen bekas.

Tersangka kedua, yaitu SR (19), Kurir Laboratorium Kimia Farma.
”Dia diduga berperan sebagai pengangkut Cutton Buds Swab Antigen bekas dari Kualanamu ke Lab Kimia Farma dan membawa Cutton Buds Swab Antigen bekas yang sudah diolah dan dikemas ulang dari Lab Kimia Farma ke Kualanamu,” kata dia.

Tersangka lainnya, adalah DJ (20), M (30), dan R (21). Tersangka DJ merupakan CS di Laboratorium Klinik Kimia Farma. Dia berperan sebagai orang yang mendaur ulang Cutton Buds Swab Antigen bekas menjadi seolah-olah baru.

Sementara M yang merupakan pekerja bagian Admin Lab Kimia Farma berperan melaporkan hasil swab ke pusat.

”Sedangkan R diduga berperan sebagai Admin hasil Swab test Antigen di ndara Kualanamu,” ungkapnya.
Kelimanya dijerat Pasal 98 ayat (3) jo pasal 196 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan/atau Pasal 8 huruf (b), (d) dan (e) jo pasal 62 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Dikatakan Panca aksi mereka telah dilakukan lebih dari empat bulan lamanya.

”Dari hasil pemeriksaan dari saksi-saksi bahwa kegiatan penggunaan cotton buds swab antigen bekas tersebut mulai dilakukan sejak tanggal 17 Desember 2020 dan diperuntukkan untuk Swab di Bandara Kualanamu Internasional Airport,” ucap Panca.

Dijelaskannya, PM diduga menyuruh melakukan pendaurulangan atau penggunaan cotton buds swab antigen bekas. Panca menyebut rata-rata pasien yang dites swab antigen di Bandara Kualanamu berjumlah 250 orang.

”Namun yang dilaporkan ke Bandara dan Pusat Kantor Laboratorium Kimia Farma hanya sekitar 100 orang. Sisanya yang 150 pasien merupakan keuntungan yang didapat PM dari hasil penggunaan cutton buds swab antigen bekas.

Rata-rata hasil dari keuntungan penggunaan cotton buds swab antigen bekas yang dibawa saudara SR ke PM, yaitu sekitar Rp 30 juta. Uang itu digunakan untuk PM dan lembur karyawan Laboratorium Kimia Farma Jalan RA Kartini Medan,” terang Panca.

Sebelumnya, polisi mengungkap kasus penggunaan alat ”rapid test” bekas untuk pemeriksaan tes antigen Covid-19 di Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Dalam kasus ini polisi mengamankan lima oknum petugas rapid test dari Kimia Farma Diagnostika, yaitu RN, AD, AT, EK, dan EI.

Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Adil Fadhilah Bulqini menegaskan pihaknya mendukung langkah polisi mengusut tuntas oknum petugas Kimia Farma Diagnostika Bandara Kualanamu, yang diduga menggunakan alat tes cepat antigen Covid-19 bekas.

“Kita mendukung sepenuhnya investigasi yang dilakukan oleh pihak berwajib terhadap kasus tersebut. Tindakan yang dilakukan oleh oknum petugas layanan rapid test Kimia Farma Diagnostika tersebut sangat merugikan perusahaan dan sangat bertentangan dengan standard operating procedure (SOP) perusahaan serta merupakan pelanggaran sangat berat,” ujar Adil Fadhilah dalam keterangan tertulisnya, Rabu (28/4/2021).

Menurut dia, jika terbukti bersalah, maka oknum petugas layanan tes cepat tersebut akan ditindak tegas dan akan diberikan sanksi berat sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kimia Farma memiliki komitmen yang tinggi sebagai BUMN farmasi terkemuka yang telah berdiri sejak zaman Belanda, untuk memberikan layanan dan produk yang berkualitas serta terbaik, lebih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat serta terus melakukan evaluasi secara menyeluruh dan penguatan monitoring pelaksanaan SOP di lapangan sehingga hal tersebut tidak terulang kembali,” katanya. (gw/fin)

Be the first to comment on "Pelaku Pemakaian Antigen Bekas Ditindak"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: