Wajib Nonton Formula 1 Lagi

NET SENGIT. Pembalap Red Bull-Honda Max Verstappen saat berada di depan pembalap Mercedes, Lewis Hamilton di GP Bahrain 2021.

Sulit menggambarkan betapa terhiburnya saya menonton Grand Prix Bahrain 2021, lomba pembuka musim baru Formula 1. Sudah begitu lama saya tidak menonton ”tegang” sampai garis finis. Benar-benar sebuah balapan! Dan balapan yang menjanjikan 22 lomba seru lain hingga akhir musim nanti.

Ya, Lewis Hamilton dan Mercedes kembali jadi pemenang. Saking seringnya ia menang dalam tujuh tahun terakhir, saya sampai malas menghitung jumlah rekor kemenangan yang sudah ia raih. Tapi, kemenangan ini beda. Ini kemenangan berkelas.

Hamilton harus berjuang keras mengeluarkan segala ilmu dan kesaktian hingga akhir lomba. Menjadi ”wortel” yang diburu habis-habisan oleh Max Verstappen (Red Bull-Honda). Dengan mobil yang kalah lincah, sang juara dunia tujuh kali harus ngebut maksimal, sambil bersamaan merawat ban dan melakukan teknik bloking tingkat dewa.

Tim Mercedes juga harus ”bekerja.” Selama ini mereka selalu punya mobil dominan, meninggalkan lawan-lawan tanpa harus mengeluarkan keringat ekstra. Kali ini, Mercedes harus berpikir keras, serta menerapkan strategi cerdik untuk melompati Verstappen dan Red Bull di lintasan.

Sadar kalah kelas, dengan rencana dua pit stop di lomba 57 putaran itu, Mercedes memutuskan untuk melakukan strategi “undercut.”

Karena tidak mampu menempel Verstappen, Hamilton diminta masuk ganti ban lebih dulu. Dengan ban lebih fresh, harapannya catatan waktu Hamilton usai pit stop bisa lebih cepat sejenak, memberinya pimpinan lomba di saat Verstappen gantian ganti ban.

Dua kali Hamilton melakukan undercut itu. Risikonya sangat besar. Karena itu berarti ia harus menjalani bagian akhir lomba lebih panjang. Menggunakan ban Pirelli yang kondisinya lebih parah dari Verstappen.
Intinya, Hamilton harus bertahan hidup saat Verstappen mengejar dan mencoba menyalip menjelang akhir lomba. Kalau gagal ya sudah, kalau berhasil luar biasa.

Hamilton berhasil!

Kematangannya dalam melakukan positioning di lintasan membuat Verstappen harus melebar keluar saat mencoba menyalipnya. Akibatnya, Verstappen diingatkan oleh “hakim garis,” harus kembali mengalah di belakang Hamilton. Setelah itu, dengan hanya empat putaran tersisa, kondisi ban Verstappen juga sudah tidak cukup baik untuk mencoba menyalip lagi.

Hamilton hanya menang 0,7 detik dalam lomba 57 putaran. Sebagai perbandingan, saat kualifikasi yang hanya satu putaran, ia kalah cepat 0,4 detik dari Verstappen!

Itu persaingan di depan. Di belakang mereka, di “papan tengah,” persaingan lebih sengit lagi. Sayang, sorotan memang harus diberikan kepada yang di depan menjelang akhir lomba.

McLaren-Mercedes tampak solid. Ferrari terlihat menjanjikan. Alpha Tauri istimewa, mengantarkan rookie Yuki Tsunoda meraih poin di lomba perdananya. Alpine (dulu Renault) dan Aston Martin, plus Alfa Romeo juga berpotensi ikut persaingan seru di tengah ini.

Sebagai catatan, tim-tim papan tengah ini sangat berpeluang ikut mengganggu persaingan di depan. Andreas Seidl, pimpinan McLaren, mengingatkan kalau pembalapnya, Lando Norris, memang finis keempat di Bahrain. Tapi ia hanya tertinggal 45 detik di belakang Hamilton yang jadi juara. Dan Hamilton ngebut maksimal di depan, bukan santai-santai! Untuk ukuran F1, jarak 45 detik setelah 57 lap itu tidaklah jauh. Apalagi antara tim unggulan dan tim papan tengah.

Entah sudah berapa lama tidak ada balapan pembuka seseru ini. Menjanjikan sisa musim yang begitu hebat.

Usai Grand Prix Bahrain, situasinya jelas. Red Bull-Honda punya mobil tercepat, tapi tidak jauh dari Mercedes. Saking ketatnya, persaingan ini bisa mirip dengan akhir 1990-an dan awal 2000-an dulu. Waktu itu, sangat sulit membedakan kekuatan Michael Schumacher dan Ferrari melawan Mika Hakkinen dan McLaren-Mercedes.

Setiap lomba jadi “must watch.” Hakkinen bisa unggul sedikit, Schumacher bisa unggul sedikit. Strategi cerdik bisa menjadi pembeda, skill dewa di lintasan bisa jadi penentu.

Tanda-tandanya, musim 2021 bisa menjadi musim klasik F1. Di mana dua pembalap, dari dua tim, bisa bersaing sengit hingga akhir. Tanda-tanda itu sudah muncul sejak sesi uji coba beberapa pekan lalu, sehingga menginspirasi saya untuk bikin podcast show di YouTube, di channel Mainbalap, bersama sahabat saya yang lucu, Dewo Pratomo.

Dan tanda-tanda seru itu menjadi semakin kuat setelah lomba pertama di Bahrain. Senang rasanya. Di tahun yang belum tentu lebih indah karena pandemi yang masih berlangsung, paling tidak akan ada potensi hiburan luar biasa. Berupa 22 seri lomba F1 yang masih akan berlangsung! (azrul ananda)

Be the first to comment on "Wajib Nonton Formula 1 Lagi"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: