Akan Ditanggung Pemerintah, Mendapatkan Apresiasi DPRD

Biaya Fogging (Akhirnya) Digratiskan

PENANDATANGANAN. Wali Kota Tasikmalaya H Budi Budiman dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf menyaksikan peresmian integritas pemanfaatan data kependudukan Disdukcapil dengan SIMRS pada RS Permata Bunda, Kamis (2/7/2020) di Bale Kota. FOTO: Ujang Nandar / Radar Tasikmalaya.

TASIK – Pemerintah Kota Tasikmalaya akhirnya menggratiskan biaya fogging. Dengan demikian, warga tidak harus membayar lagi Rp 10.000 per rumah untuk mendapatkan pengasapan pemberantasan nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD). Langkah tersebut mendapatkan apresiasi dari DPRD.

Fogging sendiri akan digratiskan dan itu sudah menjadi ketetapan kami dan seluruh biayanya akan ditanggung oleh Dinkes dari APBD,” ujar Wali Kota Tasikmalaya H Budi Budiman usai Apel Gabungan Penanganan Demam Berdarah dan Rangkaian Peresmian Integritas Pemanfaatan Data Kependudukan Disdukcapil dengan SIMRS pada Rumah Sakit Permata Bunda di halaman Bale Kota Tasikmalaya Kamis (2/7/2020).

Sebelum Pemerintah Kota Tasikmalaya memutuskan menggratiskan biaya fogging, publik mengeluhkan soal biaya Rp 10.000 tersebut. Apalagi, ekonomi masyarakat sedang dalam kondisi tidak bagus akibat pandemi Covid-19.

Masyarakat yang ingin daerahnya di-fogging, kata Wali Kota, bisa melaporkan atau mengajukan ke kelurahan dan kecamatan dan selanjutnya disampaikan ke Dinas Kesehatan. “Karena saat ini kondisinya darurat, harus betul-betul cepat penanganan,” kata orang nomor satu di Pemkot Tasikmalaya ini.

Saat ini, kata Wali Kota, Kota Tasikmalaya sudah masuk dalam status siaga satu DBD. Karena, sejak Januari sampai Juni 2020, kasus DBD di Kota Santri ini mencapai 756.

“Lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya 672 makanya pada bulan Juli ini harus turun kasusnya,” tekadnya.

Wali Kota mengajak dan menginstruksikan seluruh dinas, badan, kantor, kecamatan, kelurahan, RW dan RT untuk melaksanakan pencegahan DBD. Caranya, semua pihak besok, Jumat (3/7/2020) melaksanakan bersih-bersih lingkungan atau Jumat Bersih (Jumsih).

“Besok seluruhnya harus melaksanakan Jumsih,” ajak Wali Kota.

Bila ada kasus DBD, Wali Kota, mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan kepada pemerintah. Nanti, pemerintah akan menindaklanjuti laporan tersebut dengan fogging.

Langkah lainnya yaitu, edukasi mengenai pencegahan DBD melalui program menguras, menutup dan mengubur benda-benda.

“Selain camat, lurah dan puskemas juga akan melibatkan kader-kader kesehatan termasuk Jumantik (Juru Pemantau Jentik, Red). Tetap pada pelaksanaannya menggunakan protokol kesehatan Covid-19,” jelas dia.

Saat ini, kata Wali Kota, yang paling diwaspadai yakni jentik-jentik nyamuk yang membawa virus DBD tanpa menggigit dulu orang yang sakit demam berdarah.

“Makanya yang lebih penting itu membersihkan jentiknya, karena fogging saja hanya membunuh nyamuk dewasanya,” kata dia.

Soal status DBD di Kota Tasikmalaya yang belum menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), kata Wali Kota, karena kasusnya belum dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

“KLB belum kita tetapkan karena belum masuk. Mudah-mudahan saja dengan upaya kita semua bisa ditekan dan tidak KLB,” kata Budi berharap.

Sampai saat ini kasus DBD tertinggi ada di Kecamatan Kawalu. Jumlah kasusnya 140. Berikutnya, Mangkubumi 107 kasus, Cihideung 84 kasus, Tamansari 78 kasus,  Cipedes 73 kasus, Tawang 68 kasus, Cibeureum 65 kasus, Bungursari 65 kasus, Indihiang 39 kasus, sedangkan yang paling kecil ada di Kecamatan Purbaratu.

Untuk kasus kematian ada di tujuh kecamatan yakni Kawalu (5), Cipedes (3), Purbaratu (2), Cihideung (2), Bungursari (2), Tawang (1) dan Indihiang (1). “Yang tidak ada kasus kematian yakni Tamansari, Cibeureum dan Mangkubumi,” jelas Wali Kota. (ujg)

Be the first to comment on "Biaya Fogging (Akhirnya) Digratiskan"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: