UMB Campuspreneur from Lokal to Global Asah Kemampuan Mahasiswa di Bidang Ekspor

Campuspreneur Tasikmalaya
Acara kuliah umum UMB Campuspreneur from Lokal to Global, yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Anggota DPR RI Komisi VI, Muhammad Husein Fadlulloh, B.Bus., M.M., M.B.A, Sabtu (7/11/2026). (dok. UMB)
0 Komentar

Dunia global menuntut standardisasi yang ketat dan prosedur operasional yang baku (SOP). Pelaku usaha tidak boleh lagi mengandalkan perasaan (feeling) dalam proses produksi, melainkan harus berbasis pada data dan akurasi sistem.

“Diferensiasi dan keunikan produk akan diperhatikan oleh pembeli dunia, tetapi konsistensi kualitas yang presisi-lah yang akan membuat Anda dipercaya dalam jangka panjang,” tambah Adhitya.

Kementerian Perdagangan saat ini terus melakukan langkah-langkah dalam memfasilitasi pelaku usaha muda. Saat ini, pemerintah mengoptimalkan peran 46 Perwakilan Perdagangan yang tersebar di berbagai belahan dunia, terdiri dari 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), 24 Atase Perdagangan, Konsul Dagang, KDEI, hingga Duta Besar WTO. Jaringan ini menguasai pangsa pasar hingga 90% dari total tujuan ekspor Indonesia dan siap memberikan riset pasar, memfasilitasi business matching, serta membantu memetakan jaringan distribusi di negara tujuan.

Baca Juga:STC MORO UDANG: Vespa Tua Menjemput Udang Segar di CikalongPohon Tumbang di Jalan Cinehel Timpa Dua Kios, Atap 15 Bangunan Ikut Rusak

Keseriusan ini tercermin dari kinerja ekspor non-migas Indonesia periode Januari–September 2026 yang berhasil tumbuh sebesar 5,58% menjadi USD 212,27 Miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi domestik, kesiapan infrastruktur digital juga terus melesat tajam. Hingga Oktober 2026, ekosistem pembayaran QRIS telah mencakup 70,6 juta pengguna dan didukung oleh 49,4 juta merchant, yang mempermudah integrasi transaksi UMKM ke dalam ekosistem digital nasional maupun regional.

Sebagai langkah nyata paska kuliah umum, mahasiswa ditantang untuk mengikuti program “Tantangan 30 Hari Pertama”. Pada minggu pertama, mahasiswa diminta melakukan wawancara langsung kepada 10 calon pembeli untuk memvalidasi masalah. Minggu kedua diisi dengan pembuatan prototipe minimal. Minggu ketiga berlanjut pada eksekusi penjualan pertama kepada minimal 5 konsumen. Pada minggu keempat, seluruh hasil penjualan dievaluasi untuk proses perbaikan mutu sebelum diajukan ke program pembinaan intensif berskala nasional dan internasional. (rls)

0 Komentar