UMB Campuspreneur from Lokal to Global Asah Kemampuan Mahasiswa di Bidang Ekspor

Campuspreneur Tasikmalaya
Acara kuliah umum UMB Campuspreneur from Lokal to Global, yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bekerja sama dengan Anggota DPR RI Komisi VI, Muhammad Husein Fadlulloh, B.Bus., M.M., M.B.A, Sabtu (7/11/2026). (dok. UMB)
0 Komentar

Potensi pasar internasional untuk manggis sangat masif. Permintaan dunia berada pada kisaran 500.000 hingga 700.000 ton per tahun, sementara total produksi Kabupaten Tasikmalaya baru mampu memasok sekitar 37.900 hingga 60.000 ton per tahun. Menariknya lagi, proses hilirisasi industri ini hampir belum tersentuh. Kulit manggis yang selama ini dianggap limbah dan dibuang oleh petani, sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah menjadi produk herbal atau kosmetik berstandar global.

Selain pertanian, produk kriya Tasikmalaya seperti anyaman mendong, bambu, payung geulis, hingga bordir telah memikat pasar di berbagai belahan dunia. Produk lokal ini bahkan telah merambah tiga benua mulai dari Tiongkok, Hong Kong, Belanda, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat dan Jerman.

Untuk mempermudah mahasiswa dalam memulai langkah bisnis mereka, Laela memberikan tips sebuah kerangka kerja taktis yang disebut sebagai Rumus SPARK (Spot, Prototype, Adapt, Reach, dan Kolaborasi). Rumus ini dirancang khusus untuk memandu mahasiswa melangkah secara terstruktur dari lingkup lokal menuju panggung global. Mahasiswa diwajibkan jeli mengamati lingkungan sekitar untuk mengidentifikasi masalah atau potensi lokal yang belum tergarap. Alih-alih menunggu modal besar, mahasiswa didorong membuat produk versi sederhana (Minimum Viable Product) untuk diuji coba langsung kepada setidaknya 20 calon pembeli pertama. Mengadaptasi produk agar sesuai dengan regulasi, sertifikasi internasional (seperti dokumen phytosanitary untuk buah dan komoditas organik), serta selera pasar target. Memanfaatkan platform e-commerce lintas batas (cross-border) dan optimalisasi pemasaran digital internasional. Menyadari bahwa bisnis global terlalu kompleks untuk dikerjakan sendirian, mahasiswa harus membangun tim yang melibatkan berbagai disiplin ilmu.

Baca Juga:STC MORO UDANG: Vespa Tua Menjemput Udang Segar di CikalongPohon Tumbang di Jalan Cinehel Timpa Dua Kios, Atap 15 Bangunan Ikut Rusak

Pemateri lainnya adalah Adhitya Rahmat Taufiq dari Entrepreneur Campus selaku narasumber menekankan bahwa keunikan identitas lokal saja tidak akan cukup untuk memenangkan persaingan di pasar internasional. Produk yang dibawa harus memiliki diferensiasi yang menawarkan nilai nyata bagi konsumen (Customer-Perceived Value).

“Banyak produk lokal yang gagal bertahan di pasar global bukan karena produknya jelek pada pengiriman pertama, melainkan karena kualitasnya yang melorot pada pengiriman kedua dan ketiga. Being unique is not enough. Being good once is not enough,” cetus Adhitya dengan lugas.

0 Komentar